Ya Allah.... Entah harus mulai dari mana aku menulis
surat cintaku ini. Surat dari seorang hamba yang telah
Engkau ciptakan di bumiMu yang begitu indah. Surat
dari seorang yang tidak tahu balas budi atas semua
kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya. Surat
yang datang dari seorang makhluk yang paling
sempurna menurutMu, berwujud manusia. Semoga
Engkau berkehendak membacanya ya Allah, surat
cinta yang kutujukan padaMu dengan linangan air
mata.
Ya Allah…. Hampir 18 tahun Kau hadirkan aku di
bumiMu ini. Begitu banyak coretan pena yang telah
kutulis di dalam buku catatan harianku. Baik coretan
itu berupa kebaikan maupun keburukan, tentu Engkau
lebih tahu seperti apa diriku ini. Tentu pula malaikat di
kanan dan kiriku tak pernah lengah dengan apa yang
aku lakukan, semua tercatat rapih dalam buku catatan
amalku.
Ya Allah…. Terkadang aku merasa begitu Engkau
sayangi. Bagaimana tidak, seburuk apapun
perlakuanku padaMu, tetapi Engkau tak pernah marah.
Kau tetap sabar menghadapiku. Dengan tatapan kasih
sayang dan kelembutanMu, Kau penuhi segala
kebutuhanku, Kau penuhi semua permintaanku.
Benarlah jika ada ungkapan yang pernah aku dengar
dari orang lain yang mengatakan bahwa kasih
sayangMu kepada makhluk ciptaanMu melebihi kasih
sayang seorang ibu walaupun ada satu juta ibu yang
dikumpulkan di muka bumi ini. Kasih sayangMu selalu
mendahului murkaMu.
Ya Allah…. Maafkan aku jika sering berjalan di muka
bumiMu dengan mata bisa melihat, tetapi buta.
Telinga bisa mendengar, tetapi tuli. Mulut bisa
berbicara, tetapi bisu. Kaki bisa berjalan, tetapi
lumpuh. Dan kami sering merasa paling pintar, tetapi
sesungguhnya bodoh. Kami berjalan bagai mayat
sombong, tertawa terbahak-bahak, tak mengerti untuk
apa hidup di dunia ini. Astaghfirullah.
Ya Allah…. Maafkan aku jika masih sering mengeluh
atas setiap takdir yang Kau tetapkan untukku. Kadang
aku tak mampu membaca rahasiaMu, membaca
maksud yang tersirat atas setiap takdirMu. Aku masih
suka merasa bahwa Kau tak memberikan yang aku
pinta. Padahal seharusnya aku yakin, apapun yang Kau
berikan untukku, apapun yang terjadi dalam hidupku,
semua itu pasti yang terbaik untukku, taka da yang
sia-sia sedikitpun. Tak mungkin Kau mencelakai
hambaMu, seharusnya aku sadar akan hal itu.
Ya Allah…. Maafkan aku jika masih kurang bersyukur
atas setiap nikmat yang Kau berikan. Seringkali
kenikmatakan membutakan mata hatiku. Hingga
tanpa sadar akupun lupa mengucap syukur kepadaMu.
Padahal semua nikmat adalah pemberian dariMu dan
aku pun tahu Kau pernah berjanji, apabila aku
besyukur, Kau akan tambah nikmat itu padaku. Tetapi
kenyataannya aku pun sering tak bersyukur, dan kufur
atas setiap nikmat yang Kau berikan.
Ya Allah…. Engkaupun tahu masih sedikit sekali amal
sholehku selama ini. Sudah sedikit, amal sholeh itupun masih kurang sempurna, terkadang masih aku nodai dengan niat-niatan duniawi yang terkadang tak
kusadari. Terkadang ada rasa riya dan ingin dilihat oleh orang lain. Engkau pasti lebih tahu bisikan hatiku.
Mungkin kalaupun amal sholehku dikumpulkan, itupun takkan cukup untuk menutupi dosa-dosa yang telah kuperbuat.
Ya Allah…. Betapa seringnya aku bertaubat, tetapi
tanpa kusadari aku kembali ingkar kepadaMu. Betapa
sering aku memohon ampun, tetapi setelah itupun aku kembali mengotori hatiku. Lagi-lagi Engkaupun lebih tahu daripada diriku sendiri. Bahkan tanpa sadar dosa- dosa itupun aku lakukan dengan kebanggaan.
Astagfirullah.
Ya Allah…. Sahabat-sahabatku, keluargaku, ade-adeku
mungkin menganggapku orang baik. Padahal jika
mereka tahu seberapa hinanya diriku, seberapa
kotornya hati ini, mungkin jangankan mereka mau
mengenalku, menatap wajahku pun mereka tak kan
pernah sudi. Tetapi lagi-lagi Kau tutupi semua aib-
aibku di depan mereka. Kau biarkan aku terlihat baik di depan mereka, padahal sesungguhnya aku hanya
seorang hamba yang hina dihadapaMu.
Ya Allah…. Aku tak tahu sampai kapan Kau izinkan aku
hidup di dunia ini. Semua adalah rahasiaMu. Tetapi ya
Allah, jika aku boleh memohon padaMu, sudilah
kiranya Kau tetap menyangiku hingga kelak kematian
tiba. Mungkin setelah menulis surat inipun, aku akan
melakukan dosa kembali, tetapi satu pintaku ya Allah,
jangan pernah Kau tinggalkan aku sedikitpun,
walaupun aku sering pergi meninggalkanMu. Tegur
aku dengan lembut ya Allah, jika aku mulai jauh
dariMu. Bimbing setiap bisikkan hatiku, setiap lisanku,
dan setiap langkahku agar setia pada jalanMu.
Ya Allah…. Jangan Kau panggil aku sebelum aku bisa
membahagiakan dan membalas kebaikan kedua orang
tuaku. Walaupun aku tahu, apabila aku bisa memberi
dunia dan seisinya kepada mereka, itupun takkan
pernah sebanding dengan pengorbanan yang mereka
lakukan untukku. Tetapi jika Kau berkehendak
memanggil aku sebelum aku bisa membahagiakan
keduanya, maka aku titipkan mereka padaMu.
Bahagiakanlah mereka ya Allah, dunia dan alhirat.
Jadikan setiap kebaikan yang mereka lakukan untukku
sebagai penghapus dosa-dosa mereka. Aku yakin
Engkaulah sebaik-baiknya pemberi balasan.
Ya Allah…. Ada juga orang-orang yang kusayangi
selain orang tua dan keluargaku. Mereka tak satu
darah denganku, mereka tak satu orangtua denganku,
tetapi mereka sangat menyayangiku dan aku pun
menyayangi mereka. Merekalah saudara spiritualku di
jalanMu. Mereka yang mengajariku tentang indahnya
mencintaiMu dan KekasihMu. Mereka yang selalu hadir
saat aku jauh dari orangtua dan keluargaku. Mereka
dengan sabar mau menerima segala kekurangku. Aku
mohon ya Allah, sayangi pula mereka. Bimbing jalan
mereka saat aku tak berada di dekatnya. Kumpulkan
kelak kami di surgaMu sebagaimana Kau kumpulkan
kami di dunia ini.
Ya Allah…. Pintaku yang terakhir, jikalau nanti saat itu
tiba, saat dimana malaikat maut menjemputku,
bimbinglah lisan hamba untuk hanya menyebut
namaMu. Jangan biarkan aku menyebut sesuatu yang
kucintai di dunia ini. Karena aku ingin kembali
kepadaMu, tanpa membawa cinta yang lain selain
cintaku padaMu. Matikan aku khusnul khotimah ya
Allah dan penuhi dadaku dengan rasa rindu berjumpa
denganMu dan kekasihMu. Tak ada yang lebih
kuinginkan kecuali bisa menatap wajahMu dan
memelukMu kelak di surga.
Terimalah semua doaku ya Allah, ampuni segala
dosaku, kasihanilah aku dan sayangi aku hingga di hari aku menutup mata selamanya, kembali kepelukanMu.
Jika Kau tak mau menerimaku, kemana lagi aku harus
kembali? Karena aku berasal dariMu dan kelak akan
kembali kepadaMu.
Sembah Sujudku,
Hamba yang penuh dosa
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Juli 2013
Minggu, 23 Juni 2013
HADITS TENTANG NISFU SA'BAN
Penulis Tuhfatul Ahwadzi
(Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri)
telah menyebutkan satu per
satu hadits yang
membicarakan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban.
Awalnya beliau berkata,
“Ketahuilah bahwa telah
terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan
malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya
menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-
nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu
hadits yang dimaksud.
Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻄﻠﻊ ﻓﻰ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻻ
ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di
malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni
semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau
orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR.
Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi
berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya)
.” [Berarti hadits tersebut dho’if].
Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,
ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﺄﻃﺎﻝ
ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺣﺘﻰ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻗﺒﺾ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﻤﺖ ﺣﺘﻰ
ﺣﺮﻛﺖ ﺇﺑﻬﺎﻣﻪ ﻓﺘﺤﺮﻙ ﻓﺮﺟﻊ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﻓﺮﻍ
ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺗﻪ ﻗﺎﻝ " : ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻴﺮﺍﺀ ﺃﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺧﺎﺱ ﺑﻚ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﻗﺒﻀﺖ ﻃﻮﻝ ﺳﺠﻮﺩﻙ ، ﻗﺎﻝ " ﺃﺗﺪﺭﻱ ﺃﻱ ﻟﻴﻠﺔ
ﻫﺬﻩ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ ، ﻗﺎﻝ " : ﻫﺬﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻳﻦ ﻭﻳﺮﺣﻢ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺣﻤﻴﻦ ﻭﻳﺆﺧﺮ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻛﻤﺎ ﻫﻢ
“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan
memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa
beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal
itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu
jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika
beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan
merampungkan shalatnya, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau
sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak,
demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka
engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu
lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu
malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam
ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya
Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi
ampunan ampunan pada orang yang meminta
ampunan dan akan merahmati orang yang memohon
rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang
pendendam.”
Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan
bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula
bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits
mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus
sanadnya]
Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ
ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻟﺎ ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh
makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang
bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah
menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan,
“Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan
Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al
Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits
dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al
Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang
semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu
‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian
perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi
lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al
Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat
Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah
hadits yang dho’if]
Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ
ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺇﻟﺎ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺸﺎﺣﻦ ﻭﻗﺎﺗﻞ ﻧﻔﺲ
“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-
hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang
bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al
Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh
Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi
yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun
haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini
bermasalah].
Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di
malam Nishfu Sya’ban,
ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﺄﻫﻞ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﺇﻟﺎ ﻣﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi
kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al
Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al
Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if
karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus].
Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath
Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu
Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
ﻭﻳﻤﻬﻞ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﻳﺪﻉ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﺑﺤﻘﺪﻫﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮﻩ
“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam
Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang
beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia
meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi
mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu
Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini
pun dho’if].
Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻘﻮﻣﻮﺍ ﻟﻴﻠﻬﺎ ﻭﺻﻮﻣﻮﺍ ﻧﻬﺎﺭﻫﺎ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻐﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺃﻟﺎ
ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻐﻔﺮ ﻓﺄﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺴﺘﺮﺯﻕ ﻓﺄﺭﺯﻗﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺒﺘﻠﻰ ﻓﺄﻋﺎﻓﻴﻪ ﺃﻟﺎ
ﻛﺬﺍ ﺃﻟﺎ ﻛﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ
“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di
malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat
itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia
berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?
Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan
memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat
cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah
yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit
fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan
dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin
Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al
Madani. Ada yang menyebut namanya adalah
‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad.
Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh
memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam
At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan,
“Imam Al Bukhari dan ulama lainnya
mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah
dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam
Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan
hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi
yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di
antara maudhu’ dan dho’if]
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-
riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits
ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah
bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu
pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang
menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada
beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai
statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-
hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan
sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan
dalam kitab shahihnya.” (Lathoif Al Ma’arif, 245)
Tanggapan penulis, “Ibnu Hibban adalah di antara
ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang
bergampang-gampangan dalam menshahihkan
hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban
perlu dicek kembali.”
Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban
dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah
mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam
Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para
sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari
sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat.” (Lathoif Al Ma’arif, 248)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang
pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah
(komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah
mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan
malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang
lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun
hadits yang menerangkan mengenai keutamaan
shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah
berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana
hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (Majmu’
Fatawa Ibnu Baz, 1/188). Begitu juga di halaman
yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits
dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah,
jika memang terdapat penguat atau pendukung dari
hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang
menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu
dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk
hadits yang lemah tadi.”
(Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri)
telah menyebutkan satu per
satu hadits yang
membicarakan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban.
Awalnya beliau berkata,
“Ketahuilah bahwa telah
terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan
malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya
menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-
nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu
hadits yang dimaksud.
Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻄﻠﻊ ﻓﻰ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻻ
ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di
malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni
semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau
orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR.
Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi
berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya)
.” [Berarti hadits tersebut dho’if].
Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,
ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﺄﻃﺎﻝ
ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺣﺘﻰ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻗﺒﺾ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﻤﺖ ﺣﺘﻰ
ﺣﺮﻛﺖ ﺇﺑﻬﺎﻣﻪ ﻓﺘﺤﺮﻙ ﻓﺮﺟﻊ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﻓﺮﻍ
ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺗﻪ ﻗﺎﻝ " : ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻴﺮﺍﺀ ﺃﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺧﺎﺱ ﺑﻚ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﻗﺒﻀﺖ ﻃﻮﻝ ﺳﺠﻮﺩﻙ ، ﻗﺎﻝ " ﺃﺗﺪﺭﻱ ﺃﻱ ﻟﻴﻠﺔ
ﻫﺬﻩ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ ، ﻗﺎﻝ " : ﻫﺬﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻳﻦ ﻭﻳﺮﺣﻢ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺣﻤﻴﻦ ﻭﻳﺆﺧﺮ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻛﻤﺎ ﻫﻢ
“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan
memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa
beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal
itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu
jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika
beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan
merampungkan shalatnya, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau
sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak,
demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka
engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu
lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu
malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam
ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya
Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi
ampunan ampunan pada orang yang meminta
ampunan dan akan merahmati orang yang memohon
rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang
pendendam.”
Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan
bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula
bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits
mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus
sanadnya]
Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ
ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻟﺎ ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh
makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang
bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah
menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan,
“Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan
Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al
Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits
dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al
Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang
semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu
‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian
perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi
lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al
Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat
Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah
hadits yang dho’if]
Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ
ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺇﻟﺎ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺸﺎﺣﻦ ﻭﻗﺎﺗﻞ ﻧﻔﺲ
“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-
hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang
bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al
Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh
Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi
yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun
haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini
bermasalah].
Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di
malam Nishfu Sya’ban,
ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﺄﻫﻞ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﺇﻟﺎ ﻣﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi
kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al
Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al
Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if
karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus].
Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath
Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu
Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
ﻭﻳﻤﻬﻞ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﻳﺪﻉ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﺑﺤﻘﺪﻫﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮﻩ
“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam
Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang
beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia
meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi
mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu
Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini
pun dho’if].
Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻘﻮﻣﻮﺍ ﻟﻴﻠﻬﺎ ﻭﺻﻮﻣﻮﺍ ﻧﻬﺎﺭﻫﺎ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻐﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺃﻟﺎ
ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻐﻔﺮ ﻓﺄﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺴﺘﺮﺯﻕ ﻓﺄﺭﺯﻗﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺒﺘﻠﻰ ﻓﺄﻋﺎﻓﻴﻪ ﺃﻟﺎ
ﻛﺬﺍ ﺃﻟﺎ ﻛﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ
“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di
malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat
itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia
berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?
Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan
memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat
cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah
yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit
fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan
dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin
Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al
Madani. Ada yang menyebut namanya adalah
‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad.
Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh
memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam
At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan,
“Imam Al Bukhari dan ulama lainnya
mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah
dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam
Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan
hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi
yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di
antara maudhu’ dan dho’if]
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-
riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits
ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah
bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu
pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang
menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada
beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai
statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-
hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan
sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan
dalam kitab shahihnya.” (Lathoif Al Ma’arif, 245)
Tanggapan penulis, “Ibnu Hibban adalah di antara
ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang
bergampang-gampangan dalam menshahihkan
hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban
perlu dicek kembali.”
Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban
dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah
mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam
Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para
sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari
sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat.” (Lathoif Al Ma’arif, 248)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang
pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah
(komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah
mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan
malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang
lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun
hadits yang menerangkan mengenai keutamaan
shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah
berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana
hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (Majmu’
Fatawa Ibnu Baz, 1/188). Begitu juga di halaman
yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits
dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah,
jika memang terdapat penguat atau pendukung dari
hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang
menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu
dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk
hadits yang lemah tadi.”
Penulis Tuhfatul Ahwadzi
(Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri)
telah menyebutkan satu per
satu hadits yang
membicarakan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban.
Awalnya beliau berkata,
“Ketahuilah bahwa telah
terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan
malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya
menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-
nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu
hadits yang dimaksud.
Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻄﻠﻊ ﻓﻰ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻻ
ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di
malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni
semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau
orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR.
Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi
berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya)
.” [Berarti hadits tersebut dho’if].
Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,
ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﺄﻃﺎﻝ
ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺣﺘﻰ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻗﺒﺾ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﻤﺖ ﺣﺘﻰ
ﺣﺮﻛﺖ ﺇﺑﻬﺎﻣﻪ ﻓﺘﺤﺮﻙ ﻓﺮﺟﻊ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﻓﺮﻍ
ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺗﻪ ﻗﺎﻝ " : ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻴﺮﺍﺀ ﺃﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺧﺎﺱ ﺑﻚ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﻗﺒﻀﺖ ﻃﻮﻝ ﺳﺠﻮﺩﻙ ، ﻗﺎﻝ " ﺃﺗﺪﺭﻱ ﺃﻱ ﻟﻴﻠﺔ
ﻫﺬﻩ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ ، ﻗﺎﻝ " : ﻫﺬﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻳﻦ ﻭﻳﺮﺣﻢ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺣﻤﻴﻦ ﻭﻳﺆﺧﺮ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻛﻤﺎ ﻫﻢ
“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan
memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa
beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal
itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu
jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika
beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan
merampungkan shalatnya, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau
sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak,
demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka
engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu
lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu
malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam
ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya
Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi
ampunan ampunan pada orang yang meminta
ampunan dan akan merahmati orang yang memohon
rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang
pendendam.”
Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan
bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula
bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits
mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus
sanadnya]
Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ
ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻟﺎ ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh
makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang
bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah
menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan,
“Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan
Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al
Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits
dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al
Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang
semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu
‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian
perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi
lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al
Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat
Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah
hadits yang dho’if]
Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ
ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺇﻟﺎ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺸﺎﺣﻦ ﻭﻗﺎﺗﻞ ﻧﻔﺲ
“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-
hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang
bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al
Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh
Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi
yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun
haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini
bermasalah].
Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di
malam Nishfu Sya’ban,
ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﺄﻫﻞ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﺇﻟﺎ ﻣﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi
kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al
Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al
Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if
karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus].
Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath
Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu
Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
ﻭﻳﻤﻬﻞ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﻳﺪﻉ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﺑﺤﻘﺪﻫﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮﻩ
“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam
Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang
beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia
meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi
mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu
Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini
pun dho’if].
Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻘﻮﻣﻮﺍ ﻟﻴﻠﻬﺎ ﻭﺻﻮﻣﻮﺍ ﻧﻬﺎﺭﻫﺎ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻐﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺃﻟﺎ
ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻐﻔﺮ ﻓﺄﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺴﺘﺮﺯﻕ ﻓﺄﺭﺯﻗﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺒﺘﻠﻰ ﻓﺄﻋﺎﻓﻴﻪ ﺃﻟﺎ
ﻛﺬﺍ ﺃﻟﺎ ﻛﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ
“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di
malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat
itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia
berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?
Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan
memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat
cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah
yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit
fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan
dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin
Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al
Madani. Ada yang menyebut namanya adalah
‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad.
Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh
memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam
At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan,
“Imam Al Bukhari dan ulama lainnya
mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah
dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam
Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan
hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi
yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di
antara maudhu’ dan dho’if]
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-
riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits
ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah
bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu
pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang
menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada
beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai
statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-
hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan
sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan
dalam kitab shahihnya.” (Lathoif Al Ma’arif, 245)
Tanggapan penulis, “Ibnu Hibban adalah di antara
ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang
bergampang-gampangan dalam menshahihkan
hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban
perlu dicek kembali.”
Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban
dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah
mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam
Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para
sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari
sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat.” (Lathoif Al Ma’arif, 248)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang
pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah
(komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah
mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan
malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang
lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun
hadits yang menerangkan mengenai keutamaan
shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah
berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana
hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (Majmu’
Fatawa Ibnu Baz, 1/188). Begitu juga di halaman
yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits
dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah,
jika memang terdapat penguat atau pendukung dari
hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang
menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu
dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk
hadits yang lemah tadi.”
(Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri)
telah menyebutkan satu per
satu hadits yang
membicarakan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban.
Awalnya beliau berkata,
“Ketahuilah bahwa telah
terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan
malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya
menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-
nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu
hadits yang dimaksud.
Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻄﻠﻊ ﻓﻰ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻻ
ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di
malam Nishfu Sya'ban kemudian mengampuni
semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau
orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR.
Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi
berkata, “Hadits ini munqothi’ (terputus sanadnya)
.” [Berarti hadits tersebut dho’if].
Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,
ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﺄﻃﺎﻝ
ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺣﺘﻰ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻗﺒﺾ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺫﻟﻚ ﻗﻤﺖ ﺣﺘﻰ
ﺣﺮﻛﺖ ﺇﺑﻬﺎﻣﻪ ﻓﺘﺤﺮﻙ ﻓﺮﺟﻊ ، ﻓﻠﻤﺎ ﺭﻓﻊ ﺭﺃﺳﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﻓﺮﻍ
ﻣﻦ ﺻﻠﺎﺗﻪ ﻗﺎﻝ " : ﻳﺎ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺃﻭ ﻳﺎ ﺣﻤﻴﺮﺍﺀ ﺃﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﺧﺎﺱ ﺑﻚ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﻟﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻇﻨﻨﺖ ﺃﻥ ﻗﺒﻀﺖ ﻃﻮﻝ ﺳﺠﻮﺩﻙ ، ﻗﺎﻝ " ﺃﺗﺪﺭﻱ ﺃﻱ ﻟﻴﻠﺔ
ﻫﺬﻩ ؟ " ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﺃﻋﻠﻢ ، ﻗﺎﻝ " : ﻫﺬﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻳﻄﻠﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ
ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺴﺘﻐﻔﺮﻳﻦ ﻭﻳﺮﺣﻢ ﺍﻟﻤﺴﺘﺮﺣﻤﻴﻦ ﻭﻳﺆﺧﺮ ﺃﻫﻞ
ﺍﻟﺤﻘﺪ ﻛﻤﺎ ﻫﻢ
“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan
memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa
beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal
itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu
jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika
beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan
merampungkan shalatnya, beliau mengatakan,
“Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau
sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak,
demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka
engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu
lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu
malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam
ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya
Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi
ampunan ampunan pada orang yang meminta
ampunan dan akan merahmati orang yang memohon
rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang
pendendam.”
Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan
bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula
bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits
mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus
sanadnya]
Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺟﻤﻴﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﺠﻤﻴﻊ
ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻟﺎ ﻟﻤﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh
makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang
bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah
menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan,
“Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan
Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al
Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits
dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al
Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang
semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu
‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian
perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi
lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al
Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat
Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah
hadits yang dho’if]
Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻘﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ
ﻟﻌﺒﺎﺩﻩ ﺇﻟﺎ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺸﺎﺣﻦ ﻭﻗﺎﺗﻞ ﻧﻔﺲ
“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada
malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-
hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang
bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al
Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh
Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi
yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun
haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini
bermasalah].
Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di
malam Nishfu Sya’ban,
ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻟﺄﻫﻞ ﺍﻟﺄﺭﺽ ﺇﻟﺎ ﻣﺸﺮﻙ ﺃﻭ ﻣﺸﺎﺣﻦ
“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi
kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al
Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al
Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if
karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus].
Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath
Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu
Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ
ﻭﻳﻤﻬﻞ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﻳﺪﻉ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﺪ ﺑﺤﻘﺪﻫﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮﻩ
“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam
Nishfu Sya’ban, Dia akan mengampuni orang yang
beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia
meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi
mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu
Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini
pun dho’if].
Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻓﻘﻮﻣﻮﺍ ﻟﻴﻠﻬﺎ ﻭﺻﻮﻣﻮﺍ ﻧﻬﺎﺭﻫﺎ
ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻐﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺃﻟﺎ
ﻣﻦ ﻣﺴﺘﻐﻔﺮ ﻓﺄﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺴﺘﺮﺯﻕ ﻓﺄﺭﺯﻗﻪ ﺃﻟﺎ ﻣﺒﺘﻠﻰ ﻓﺄﻋﺎﻓﻴﻪ ﺃﻟﺎ
ﻛﺬﺍ ﺃﻟﺎ ﻛﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻠﻊ ﺍﻟﻔﺠﺮ
“Apabila malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah di
malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat
itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia
berfirman: "Adakah orang yang meminta ampun
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?
Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan
memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat
cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah
yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit
fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan
dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin
Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al
Madani. Ada yang menyebut namanya adalah
‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad.
Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh
memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam
At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan,
“Imam Al Bukhari dan ulama lainnya
mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah
dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam
Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan
hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi
yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di
antara maudhu’ dan dho’if]
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-
riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits
ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah
bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu
pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan
malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang
menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada
beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai
statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-
hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan
sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan
dalam kitab shahihnya.” (Lathoif Al Ma’arif, 245)
Tanggapan penulis, “Ibnu Hibban adalah di antara
ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang
bergampang-gampangan dalam menshahihkan
hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban
perlu dicek kembali.”
Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban
dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah
mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam
Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para
sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari
sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang
menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat.” (Lathoif Al Ma’arif, 248)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang
pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah
(komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah
mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan
malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang
lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun
hadits yang menerangkan mengenai keutamaan
shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah
berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana
hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.” (Majmu’
Fatawa Ibnu Baz, 1/188). Begitu juga di halaman
yang sama, Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits
dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah,
jika memang terdapat penguat atau pendukung dari
hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang
menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu
dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk
hadits yang lemah tadi.”
Sabtu, 22 Juni 2013
DO'A JIBRIL MENJELANG NISFU SA'BAN
•Doa MaLaikat JibriL menjeLang Nisfu Sya'ban : “Yaa ALLAH abaikanLah puasa umat Nabi Muhammad SAW, apabiLa sebeLum Romadhan dia beLum:
1.Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup .
2.Berma'afan antara suami-istri .
3.Berma'afan dengan keLuarga, kerabat serta orang sekitar”.
Maka saat itu doa MaLaikat JibriL diaminkan oLeh RosuLLuLoh sampai 3x, Amin..amin..amin..
NABI MUHAMMAD SAW bersabda: “barang siapa yg mengingatkan kedatangan bulan ini, HARAM API NERAKA baginya..
امين اللهم امين ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن. أمين....أمين ....أمين يارب العالمينْ. آمِينْ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينْ آمٌــــيٍنْ امين اللهم امين. آمٌــــيٍـــنْ
1.Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup .
2.Berma'afan antara suami-istri .
3.Berma'afan dengan keLuarga, kerabat serta orang sekitar”.
Maka saat itu doa MaLaikat JibriL diaminkan oLeh RosuLLuLoh sampai 3x, Amin..amin..amin..
NABI MUHAMMAD SAW bersabda: “barang siapa yg mengingatkan kedatangan bulan ini, HARAM API NERAKA baginya..
امين اللهم امين ... يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن. أمين....أمين ....أمين يارب العالمينْ. آمِينْ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينْ آمٌــــيٍنْ امين اللهم امين. آمٌــــيٍـــنْ
Sabtu, 15 Juni 2013
10 PENGHALANG DO'A
Syaqiq bin Ibrahim berkata: “Bahwa Ibrahim
bin Adham pernah melewati sebuah pasar di kota
Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan
bertanya: “Wahai Abu Ishaq, Allah berfirman di
dalam Kitab Suci Al quran : “Berdoalah kepada-Ku,
niscaya Aku akan mengabulkan doamu”. Sementara
kami selalu berdoa semenjak lama, tapi tidak
kunjung dikabulkan.”
Lalu Ibrahim berkata: “Wahai penduduk
Basrah, hati kalian sudah mati dalam 10 hal :
Pertama : kalian mengenal Allah, tetapi tidak mau
menunaikan haknya.
Kedua : kalian membaca kitab Allah, tetapi tidak
mau mengamalkannya.
Ketiga : kalian mengaku mencintai Rasulullah,
tetapi kalian meninggalkan sunnahnya
Keempat : kalian mengaku bermusuhan dengan
setan, tetapi kalian akur dengannya.
Kelima : kalian mengatakan cinta kepada surga,
tetapi tidak mau beramal untuk menuju ke sana.
Keenam : kalian mengatakan takut kepada neraka,
tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian
padanya.
Ketujuh : kalian mengatakan bahwa kematian itu
benar adanya, tetapi kalian tidak mau
mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kedelapan : kalian sibuk mencari aib saudara
kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
Kesembilan : kalian memakan karunia Allah, tetapi
tidak mau mensyukurinya.
Kesepuluh : kalian mengubur orang mati, tetapi
tidak mau mengambil pelajaran dari padanya.”
bin Adham pernah melewati sebuah pasar di kota
Basrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan
bertanya: “Wahai Abu Ishaq, Allah berfirman di
dalam Kitab Suci Al quran : “Berdoalah kepada-Ku,
niscaya Aku akan mengabulkan doamu”. Sementara
kami selalu berdoa semenjak lama, tapi tidak
kunjung dikabulkan.”
Lalu Ibrahim berkata: “Wahai penduduk
Basrah, hati kalian sudah mati dalam 10 hal :
Pertama : kalian mengenal Allah, tetapi tidak mau
menunaikan haknya.
Kedua : kalian membaca kitab Allah, tetapi tidak
mau mengamalkannya.
Ketiga : kalian mengaku mencintai Rasulullah,
tetapi kalian meninggalkan sunnahnya
Keempat : kalian mengaku bermusuhan dengan
setan, tetapi kalian akur dengannya.
Kelima : kalian mengatakan cinta kepada surga,
tetapi tidak mau beramal untuk menuju ke sana.
Keenam : kalian mengatakan takut kepada neraka,
tetapi kalian malah menggadaikan diri kalian
padanya.
Ketujuh : kalian mengatakan bahwa kematian itu
benar adanya, tetapi kalian tidak mau
mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kedelapan : kalian sibuk mencari aib saudara
kalian, tetapi mengabaikan aib kalian sendiri.
Kesembilan : kalian memakan karunia Allah, tetapi
tidak mau mensyukurinya.
Kesepuluh : kalian mengubur orang mati, tetapi
tidak mau mengambil pelajaran dari padanya.”
Kamis, 28 Maret 2013
DO'A KUMAYL
Allahumma shalli ala Muhammad wa alii Muhammad.
Ya Allah,
Aku bermohon pada-Mu,
dengan rahmat-Mu Yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu,
dan karenanya merunduk segala sesuatu,
dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu,
dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu, dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu,
dengan wajah-Mu yang kekal setelah punah segala sesuatu,
dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu,
dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu,
dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu.
Wahai Nur,
Wahai Yang Mahasuci.
Wahai yang Awal dari segala yang awal.
Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.
Ya, Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.
Ya, Allah,
ampuni dosa-dosaku yang merusak karunia.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menahan do`a.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala`.
Ya Allah,
ampunilah dosa yang telah kulakukan
dan segala kesalahan yang telah kukerjakan.
Aku bermohon pada-Mu,
dengan rahmat-Mu Yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu,
dan karenanya merunduk segala sesuatu,
dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu,
dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu, dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu,
dengan wajah-Mu yang kekal setelah punah segala sesuatu,
dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu,
dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu,
dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu.
Wahai Nur,
Wahai Yang Mahasuci.
Wahai yang Awal dari segala yang awal.
Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.
Ya, Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.
Ya, Allah,
ampuni dosa-dosaku yang merusak karunia.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menahan do`a.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala`.
Ya Allah,
ampunilah dosa yang telah kulakukan
dan segala kesalahan yang telah kukerjakan.
Ya Allah,
aku datang menghampi-Mu dengan zikir-Mu,
aku memohon pertolongan -Mu dengan diri-Mu,
aku bermohon pada-Mu dengan kemurahan-Mu,
dekatkan daku keharibaan-Mu,
sempatkan daku untuk bersyukur pada-Mu,
bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu.
Ya Allah,
aku bermohon pada-Mu dengan permohonan
hamba yang rendah, hina dan ketakutan, maafkan daku, sayangi daku,
dan jadikan daku ridha dan senang pada pemberian-Mu.
Ya Allah,
aku bermohon pada-Mu,
dengan permohonan orang yang berat keperluannya,
yang ketika kesulitan menyampaikan hajatnya pada-Mu,
yang besar kedambaannya untuk meraih apa yang ada disisi-Mu.
Ya Allah,
Maha besar kekuasaan-Mu, Maha tinggi kedudukan-Mu,
Selalu tersembunyi rencana-Mu,
Selalu tampak kuasa-Mu, selalu tegak kekuatan-Mu,
Selalu berlaku kodrat-Mu, takmungkin lari dari pemerintahan-Mu.
Ya Allah,
tidak kudapatkan pengampun bagi dosaku,
tiada penutup bagi kejelekanku,
tiada yang dapat menggantikan amalku yang jelek dengan kebaikan, melainkan Engkau.
Tiada Tuhan kecuali Engkau.
Maha suci Engkau dengan segala puji-Mu.
Telah aku aniaya diriku, telah berani aku melanggar,
karena kebodohanku, tetapi aku tetap tanteram,
karena bersandar pada sebutan-Mu dan karunia-Mu padaku.
Ya Allah, Pelindungku,
betapa banyak kejelekkan diriku telah Kau tutupi,
betapa banyak malapetaka telah Kau atasi,
betapa banyak rintangan telah Kau singkirkan,
betapa banyak bencana telah Kau tolakkan,
betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kau sebarkan.
Ya Allah,
besar sudah bencanaku,
berlebihan sudah kejelekan keadaanku,
rendah benar amal-amalku,
berat benar belenggu (kemalasanku).
Angan-angan panjang telah menahan manfaat dari diriku,
dunia dengan tipuannya telah memperdayaku,
dan diriku (telah terpedaya) karena ulahnya,
dan karena kelalaianku.
Wahai Junjunganku,
aku bermohon pada-Mu dengan seluruh kekuasan-Mu,
jangan Kau tutup do`aku, karena kejelekan amal dan perangaiku,
jangan Kau ungkapkan rahasiaku yang tersembunyi
yang telah Engkau ketahui,
Jangan Engkau segerakan siksa padaku karena perbuatan buruk
dan kejelekan yang kulakukan dalam kesendirianku,
karena kebiasaanku melanggar batas, dan kebodohanku,
karena banyaknya nafsuku dan kelalaianku.
Ya Allah,
dengan kemulian-Mu,
sayangi aku dalam segala keadaan, kasihi aku dalam segala perkara.
Ilahi Rabbi,
kepada siapa lagi selain Engkau,
aku memohon dihilangkan kesengsaraanku, dan diperhatikan urusanku.
Ilahi Pelindungku,
Engkau kenakan padaku hukum,
tetapi disitu aku ikuti hawa nafsuku;
aku tidak cukup waspada terhadap tipuan (setan) musuhku,
maka terkecohlah aku lantaran nafsuku,
dan berlakulah ketentuan-Mu atas diriku
ketika kulanggar sebagian batas yang Kau tetapkan bagiku,
dan kubantah sebagian perintah-Mu.
Namun bagi-Mu segala pujiku atas semuanya itu;
Tiada alasan bagiku (menolak) ketentuan yang Kau tetapkan bagiku,
demikian pula hukum dan ujian yang menimpaku.
Aku datang kini menghadap-Mu,
Ya Ilahi …….,
dengan segala kekuranganku,
dengan segala kedurhakaanku (pelanggaranku),
sambil menyampaikan pengakuan dan penyesalanku
dengan hati yang hancur luluh,
memohon ampun dan berserah diri,
dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku.
Karena segala cacatku ini,
tiada aku dapatkan tempat melarikan diri,
tiada tempat berlindung untuk menyerahkan urusanku,
selain pada kehendak-Mu untuk menerima pengakuan kesalahanku
dan memasukkan aku pada kesucian kasih-Mu.
Ya Allah,
terimahlah pengakuanku, kasihanilah beratnya kepedihan,
lepaskan aku dari kekuatan belengguku.
Ya Rabbi,
kasihanilah kelemahan tubuhku,
kelembutan kulitku dan kerapuhan tulangku.
Wahai Tuhan yang mula-mula menciptakanku,
menyebutku, mendidikku, memperlakukanku dengan baik, dan memberiku kehidupan,
karena permulaan karunia-Mu, karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan,
berilah aku karunia-Mu.
Ya Allah,
Junjungan-ku, Pemelihara-ku,
Apakah Engkau akan menyikasaku dengan api-Mu,
setelah aku mengesakan-Mu,
setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu,
setelah lidahku bergetar menyebut-Mu,
setelah jantungku terikat dengan cinta-Mu,
setelah segala ketulusan pengakuan-ku dan permohonan-ku,
seraya tunduk bersimpuh pada rububiah-Mu ?.
Tidak,..Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang engkau ayomi,
atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan,
atau menyisikan orang yang Engkau naungi,
atau menjatuhkan bencana pada orang
yang Engkau cukupi dan Engkau sayangi,
aduhai diriku!,
Junjungan-ku, Tuhan-ku, Pelindung-Ku !,
Apakan Engkau akan melemparkan keneraka wajah-wajah yang tunduk rebah karena kebesarab-Mu,
lidah-lidah yang dengan tulus mengucapkan ke-Esaan-Mu dan dengan pujian mensyukuri nikmat-Mu,
kalbu-kalbu yang dengan sepenuh hati mengakui uluhiah-Mu,
hati nurani yang dipenuhi ilmu tentang Engkau,
sehingga bergetar katakutan,
tubuh-tubuh yang telah biasa tunduk untuk mengabdi-Mu dan dengan merendah memohon ampunan-Mu ? Tidak sedemikian itu persangkaan kami tentang-Mu,
padahal telah diberitakan pada kami tentang keutamaan-Mu.
Wahai pemberi karunia, wahai pemelihara !
Engkau mengetahui kelemahanku
dalam menanggung sedikit dari bencana dan siksa dunia
serta kejelekan yang menimpa penghuninya;
Padahal semua (bencana dan kejelekan) itu singkat masanya, sebentar lalunya, dan pendek usianya.
Maka apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat dan kejelekan hari akhir yang besar,
bencana yang panjang masanya dan kekal menetapnya, serta tidak diringankan bagi orang yang menanggungnya;
sebab semuanya tidak terjadi, kecuali karena murka-Mu, karena balasan-Mu.
Inilah, yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnya.
Wahai Junjungan-Ku,
bagai mana mungkin aku (menanggungnya)?,
padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina, malang, dan papa.
Urusan apalagi kiranya yang akan aku adukan pada-Mu ?
Mestikah aku menangis menjerit, karena kepedihan dan beratnya siksa, atau karena lamanya cobaan ?
SekiranyaEngkau siksa aku beserta musuh-musuh-Mu,
dan Engkau himpunkan aku bersama penerima bencana-Mu,
dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan kecintaan-Mu, ohh….. seandainya aku.
Ya Ilahi,
Junjungan-ku, Pelindung-ku, Tuhan-ku.
Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu,
mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu ?.
Dan seandainya aku dapat bersabar menahan panas api-Mu,
mana mungkin aku bersabar tidak melihat kemulyaan-Mu ?.
Mana mungkin aku tinggal di neraka, padahal harapanku hanya maaf-Mu !.
Demi kemuliaan-Mu,
wahai Junjungan-Ku, Pelindung-Ku !
Aku bersumpah dengan tulus;
sekiranya Engkau biarkan aku berbicara disana, ditengah penghuninya, aku akan menangis, tangisan mereka yang menyimpan harapan,
aku akan menjerit, jeritan mereka yang memohon pertolongan,
aku akan merintih, rintihan yang kekurangan.
Sungguh, aku akan menyeru-Mu, dimanapun Engkau berada.
wahai Junjungan-Ku, Pelindung-Ku !
Aku bersumpah dengan tulus;
sekiranya Engkau biarkan aku berbicara disana, ditengah penghuninya, aku akan menangis, tangisan mereka yang menyimpan harapan,
aku akan menjerit, jeritan mereka yang memohon pertolongan,
aku akan merintih, rintihan yang kekurangan.
Sungguh, aku akan menyeru-Mu, dimanapun Engkau berada.
Wahai, Pelindung kaum mukminin,
Wahai tujuan harapan kaum arifin,
Wahai lindungan kaum yang memohon perlindungan,
Wahai kekasih kalbu para pencinta kebenaran,
Wahai Tuhan seru sekalian alam.
Maha suci Engkau Ilahi, dengan segala puji-Mu !
Akankah Engkau dengar disana suara hamba muslim
yang terpenjara dengan keingkarannya,
yang merasakan siksanya karena kedurhakaannya,
yang terperosok ke dalam nya karena dosa dan nistanya;
ia merintih pada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,
ia menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-Mu,
ia bertawasul pada-Mu dengan rububiah-Mu,
Akankah Engkau dengar disana suara hamba muslim
yang terpenjara dengan keingkarannya,
yang merasakan siksanya karena kedurhakaannya,
yang terperosok ke dalam nya karena dosa dan nistanya;
ia merintih pada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,
ia menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-Mu,
ia bertawasul pada-Mu dengan rububiah-Mu,
Wahai Pelindung-ku !
Bagaimana mungkin ia kekal dalam siksa,
padahal ia berharap pada kebaikan-Mu yang terdahulu.
Mana mungkin neraka menyakitinya,
padahal ia mendambakan karunia dan kasih-Mu.
Mana mungkin nyalanya membakarnya,
padahal Engkau dengar suaranya dan Engkau lihat tempatnya,
Mana mungkin jilatan api mengurungnya,
padahal Engkau mengetahui kelemahannya.
Mana mungkin ia jatuh bangun didalamnya,
padahal Engkau mengetahui ketulusannya.
Mana mungkin Zabaniyah menghempasnya,
padahal ia memanggil-manggil -Mu : Ya Rabbi … !
Mana mungkin ia mengharapkan karunia kebebasan dari padanya, lalu Engkau meninggalkannya disana,
Tidak, tidak demikian sangkaku pada-Mu.
Tidak mungkin seperti itu perlakuan-Mu terhadap kaum beriman,
melainkan kebaikan dan karunialah yang Engkau berikan.
Dengan yakin aku berani berkata,
kalau bukan karena keputusan-Mu
untuk menyiksa orang yang mengingkari-Mu dan putusan-Mu
untuk mengekalkan disana orang-orang yang melawan-Mu,
tentu Engkau jadikan api seluruhnya sejuk dan damai,
tidak akan ada lagi disitu tempat tinggal
dan menetap bagi siapapun.
Tetapi Maha Kudus nama-nama-Mu,
Engkau telah bersumpah untuk memenuhi neraka dengan orang-orang kafir dari golongan Jin dan Manusia seluruhnya.
Engkau akan mengekalkan disana kaum durhaka.
Engkau dengan segala kemuliaan puji-Mu,
Engkau berkata ,
setelah menyebutkan nikmat yang Engkau berikan
“Apakah orang mukmin seperti orang kafir, sungguh tidak sama mereka itu”.
Ilahi, Junjungan-ku,
Aku memohon pada-Mu,
dengan kodrat yang telah Engkau tentukan,
dengan qadha yang telah Engkau tetapkan dan putuskan,
dan yang telah Engkau tentukan berlaku pada
orang-orang yang dikenai ;
Ampunilah bagi-ku, dimalam ini, disaat ini,
semua nista yang pernah aku kerjakan,
semua dosa yang pernah aku lakukan,
semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan,
semua kedunguan yang pernah aku amalkan,
yang aku sembunyikan atau tampakkan,
yang aku tutupi atau yang aku tunjukkan.
Ampunilah semua keburukan
yang telah Engkau suruhkan malaikat mencatatnya.
Mereka yang telah Engkau tugaskan untuk merekam
Segala yang ada padaku,
mereka yang Engkau jadikan saksi-saksi
bersama seluruh anggota badanku,
dan Engkau sendiri mengawal di belakang mereka,
menyaksikan apa yang tersembunyi pada mereka.
yang telah Engkau suruhkan malaikat mencatatnya.
Mereka yang telah Engkau tugaskan untuk merekam
Segala yang ada padaku,
mereka yang Engkau jadikan saksi-saksi
bersama seluruh anggota badanku,
dan Engkau sendiri mengawal di belakang mereka,
menyaksikan apa yang tersembunyi pada mereka.
Dengan rahmat-Mu, Engkau sembunyikan kejelekan itu
Dengan kerunia-Mu, Engkau menutupinya.
Perbanyaklah bagianku pada setiap kebaikan yang Engkau turunkan, atau setiap karunia yang Engkau limpahkan,
atau setiap keberuntungan yang Engkau sebarkan,
atau setiap rezeki yang Engkau curahkan,
atau setiap dosa yang Engkau ampunkan,
atau setiap kesalahan yang Engkau sembunyikan.
Ya Rabbi … Ya Rabbi … Ya Rabbi…
Ya Ilahi, Junjungan-ku, Pelindung-ku, Pemilik nyawa-ku !
Wahai Dzat yang ditangan-Nya ubun-ubunku !
Wahai yang mengetahui kesengsaraan dan kemalangan-ku !
Wahai yang mengetahui kefakiran dan kepapaan-ku !
Ya Rabbi … Ya Rabbi … Ya Rabbi …
Aku memohon pada-Mu dengan kebenaran dan kesucian-Mu,
dengan keagungan sifat dan Asma`-Mu !
Jadikan waktu-waktu malam dan siang-ku,
dipenuhi dengan zikir pada-Mu,
dihubungkan dengan kebaktian pada-Mu,
diterima amalku disisi-Mu,
sehingga jadilah amal dan wiridku
seluruhnya wirid yang satu,
dan kekalkanlah selalu keadaanku dalam berbakti pada-Mu.
Wahai Dzat yang kepada-Nya aku percayakan diriku !
yang kepada-Nya aku adukan keadaanku !
Ya Rabbi … Ya Rabbi … Ya Rabbi …
Kokohkan anggota badanku untuk berbakti pada-Mu.
Teguhkan tulang-tulangku untuk melaksanakan niatku.
Karuniakan pada-ku kesungguhan untuk bertakwa pada-Mu, kebiasan untuk meneruskan bakti pada-Mu,
sehingga aku bergegas menuju-Mu bersama para pendahulu
dan berlari kearah-Mu bersama orang-orang terkemuka,
merindukan dekat pada-Mu bersama yang merindukan-Mu.
Jadikan daku dekat pada-Mu, dekatnya orang-orang yang ikhlas
dan takut pada-Mu, takutnya orang-orang yang yakin.
Sekarang aku berkumpul dihadirat-Mu bersama kaum mukminin.
Ya Allah !
siapa yang berbaksud buruk padaku, tahanlah dia,
siapa yang memperdayakan-ku, gagalkanlah dia.
Jadikan aku hamba-Mu yang paling baik nasibnya disisi-Mu.
yang paling dekat kedudukannya dengan-Mu,
yang paling istimewa tempatnya didekat-Mu,
Sungguh, semua ini tidak akan tercapai, kecuali dengan karunia-Mu.
Limpahkan padaku kemurahan-Mu,
sayangi aku dengan kebaikan-Mu,
jaga diriku dengan rahmat-Mu,
gerakkan lidah-ku untuk selalu berzikir pada-Mu,
penuhi hatiku supaya selalu mencintai-Mu,
berikan padaku yang terbaik dari ijabah-Mu,
hapuskan bekas kejatuhanku,
Ampuni ketergelinciranku.
Limpahkan padaku kemurahan-Mu,
sayangi aku dengan kebaikan-Mu,
jaga diriku dengan rahmat-Mu,
gerakkan lidah-ku untuk selalu berzikir pada-Mu,
penuhi hatiku supaya selalu mencintai-Mu,
berikan padaku yang terbaik dari ijabah-Mu,
hapuskan bekas kejatuhanku,
Ampuni ketergelinciranku.
Sungguh, telah Engkau wajibkan hamba-hamba-Mu beribadah pada-Mu,
Engkau perintahkan mereka untuk berdo`a pada Mu,
Engkau jaminkan pada mereka ijabah-Mu.
Karena itu, kepada-Mu,
Ya Rabbi,
aku hadapkan wajah-ku, kepada-Mu,
Ya Robbi,
aku ulurkan tangan-ku, demi kebesaran-Mu,
perkenankan do`a-ku,
sampaikan daku pada cita-citaku,
jangan putuskan harapanku akan karunia-Mu,
lindungi aku dari kejahatan Jin dan Manusia
musuh-musuhku.
Wahai yang Maha cepat ridhonya !
Ampunilah orang yang tidak memiliki apapun kecuali do`a,
karena Engkau perbuat apa kehendak-Mu.
Wahai yang namanya adalah obat,
yang zikir-Nya adalah penyembuhan,
yang ketaatan-Nya adalah kekayaan !
Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan,
dan senjatanya hanya tangisan.
Wahai Penabur karunia !
Wahai Penolak bencana !
Wahai Nur,
yang menerangi mereka
yang terhempas dalam kegelapan,
Wahai yang maha tahu tanpa diberi tahu,
sampaikan rahmat-Mu
pada Muhammad dan Keluarga Muhammad.
Lakukan pada-ku apa yang layak bagi-Mu.
Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan
pada Rasul-Nya serta para Imam yang mulia dari Keluarganya;
Sampaikan salam pada mereka
wanita yang disebut namanya dalam al-quran
Maryam binti Imran adalah satu-satunya wanita yang namanya disebut dalam al-Quran. Malah nama itu mendapat penghormatan apabila dipilih untuk menamakan satu surah daripada surah-surah al-Quran. Beliau anak tunggal kepada Imran, seorang daripada pemuka-pemuka dan ulama Bani Israil. Ibunya pula saudara ipar kepada Nabi Zakaria a.s.
Sewaktu mengandungkan Maryam, ibunya berdoa: “…Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku ini sebagai muharrar (seorang yang bebas dari segala urusan dunia untuk berkhidmat kepada-Mu semata-mata), maka terimalah nazarku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Ali-Imran 3:35)
Mengapa hanya nama wanita itu yang dipilih untuk disebut dalam sebuah kitab suci yang dibaca oleh berbilion manusia sehingga ke hari kiamat, hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Yang jelas, ia menjadi sebab seorang pendakwah Kristian memeluk Islam!
Dr. Gary Miller merupakan seorang pendakwah Kristian yang sangat aktif serta memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Bible. Beliau meminati matematik dan ilmu logik.
Suatu hari dia bertekad untuk membaca al-Quran bagi mencari kesalahan yang terdapat di dalamnya. Kesalahan itu nanti akan digunakan dalam mendakwah orang Islam agar memeluk Kristian.
Dia beranggapan, kitab yang telah ditulis lebih 14 abad yang lalu itu pastinya mengandungi maklumat-maklumat yang telah ketinggalan zaman, membicarakan tentang padang pasir dan yang berkaitan dengannya.
Namun apa yang ditemui sungguh menakjubkan. Al-Quran mengandungi fakta-fakta sains yang hebat. Lebih menakjubkan, al-Quran tidak langsung menceritakan tentang wanita-wanita yang hidup bersama Muhammad s.a.w. dan sangat rapat dengan baginda seperti Khadijah, Fatimah dan Aisyah. Sebaliknya al-Quran bercerita secara terperinci mengenai bonda Nabi Isa a.s. Al-Quran memuji dan mengiktiraf Maryam sebagai seorang gadis yang terpilih, suci, taat dan beriman kepada Allah serta kitab-kitab-Nya. Hal yang sedemikian tidak terdapat dalam kitab Kristian sendiri. Malah terdapat satu surah diberi nama Maryam. Nama Muhammad s.a.w. sendiri hanya disebut empat kali berbanding nama Isa a.s. yang disebut sebanyak 25 kali.
Selain itu dalam surah Maryam juga mengandungi mukjizat serta fakta yang diperakui ketepatannya oleh sains moden. Dalam ayat 23-26 surah Maryam, Allah s.w.t. telah berfirman (maksudnya):
”(Ketika dia hendak bersalin) maka sakit beranak itu memaksanya (pergi bersandar) ke pangkal sebatang pohon tamar (kurma); dia berkata, ‘Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum ini dan menjadilah aku sesuatu yang dilupakan orang dan tidak dikenang-kenang!’ Lalu dia diseru dari sebelah bawahnya: ‘Janganlah engkau berdukacita (wahai Maryam), sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di bawahmu sebatang anak sungai. Dan gegarlah ke arahmu batang pohon tamar itu, supaya gugur kepadamu buah tamar yang masak. Maka makanlah dan minumlah serta bertenang hatilah daripada segala yang merunsingkan. Kemudian kalau engkau melihat seseorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku bernazar diam membisu kerana (Allah) Ar-Rahman; (setelah aku menyatakan yang demikian) maka aku tidak akan berkata-kata kepada sesiapa pun daripada kalangan manusia pada hari ini.”
Dalam ayat di atas, Allah s.w.t. menasihati Maryam supaya:
1. jangan berdukacita,
2. gegarkan pohon kurma dan
3. makan buahnya.
Menurut pakar perubatan, perasaan dukacita atau disebut kemurungan ketika hamil boleh membawa kesan yang buruk kepada ibu dan anak dalam kandungannya.
Kaji selidik menyatakan kemurungan ibu menyebabkan berubahnya paksi neuroendocrine (saraf & hormon) dan saluran darah ke rahim, justeru mengundang kepada kelahiran pre-mature, rendah berat lahir bayi dan pre-eclampsia.
Keputusan kelahiran yang negatif banyak dikaitkan dengan simptom kemurungan dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan. Bayi yang dilahirkn oleh ibu yang murung mempunyai paras cortisol dan catecholamine yang tinggi sebaik sahaja dilahirkan. Bayi-bayi ini menangis lebih kerap dan susah untuk dipujuk berbanding bayi-bayi daripada ibu yang tiada masalah kemurungan. Bayi daripada wanita yang mempunyai risiko kemurungan yang tinggi juga menunjukkan lebih ketidaktentuan waktu tidur dan lebih masa di atas katil sebelum benar-benar tidur.
Jika kemurungan berterusan sehingga selepas kelahiran, risiko kesan buruk berpanjangan terhadap bayi seperti kurang keakraban ibu dan anak, kelewatan perkembangan kemampuan cognitive, kurang perkembangan emosi dan masalah kelakuan boleh terjadi. Kajian menunjukkan bayi-bayi seperti ini lebih kalut, kurang menyatakan hasrat dan kurang membuat raut wajah yang positif. Jika bayi didedahkan kepada situasi kemurungan ibu dalam 4 bulan pertama, walaupun ibu mendapat rawatan kemudiannya, bayi tadi mengalami kelewatan pertumbuhan dan simptom-simptom tadi juga berkekalan. Apabila mereka membesar, berkemungkinan disebabkan oleh pendedahan awal atau suasana tertekan yang berterusan di rumah, mereka lebih berisiko untuk mengalami masalah gangguan emosi dan kelakuan buruk, cuba membunuh diri dan memerlukan rawatan mental pada kemudian hari.
Itu berkenaan nasihat jangan berdukacita. Mengapa pula dia disuruh agar menggegarkan pohon kurma? Ini bererti Allah s.w.t. mahu Maryam melakukan pergerakan, bukan duduk diam atau berehat memanjang.
Kajian juga menunjukkan bahawa riadah ringan semasa hamil mendatangkan kesan positif bagi ibu dan bayi. Riadah membantu ibu:
1. Berasa lebih selesa, meningkatkan perasaan pengawalan diri dan menambah kadar tenaga. Di samping menyebabkan rembesan endorphins (bahan kimia semulajadi dari otak), riadah juga:
a. melegakan sakit belakang dan membaiki posture badan dengan menguatkan tona otot belakang, punggung dan paha.
b. mengurangkan masalah sembelit dengan melajukan pergerakan usus.
c. mengelak masalah kehakisan sendi tulang (yang selalunya menjadi longgar ketika hamil disebabkan perubahan hormon) dengan mengaktifkan cecair pelincir dalam sendi.
d. membantu tidur nyenyak dengan menghilangkan stres dan perasaan berdebar-debar yang boleh menyebabkan para ibu tidak mendapat kerehatan di malam hari.
2. Lebih anggun. Riadah membantu pengaliran darah ke kulit, memberikan rupa yg sihat dan ceria.
3. Penyediaan diri dan badan untuk kelahiran. Otot yang kuat dan jantung yang bagus sangat membantu ketika proses melahirkan anak. Penguasaan aliran pernafasan dapat membantu ibu menghadapi sakit melahirkan anak. Dan jika waktu kelahiran sangat panjang, tubuh yang berstamina sememangnya banyak membantu.
4. Mengembalikan tubuh seperti sebelum mengandung lebih cepat. Ibu-ibu yang beriadah kurang menambah berat lemak ketika hamil jika riadah diteruskan dengan syarat riadah menjadi kebiasaan sebelum hamil.
Nasihat ketiga adalah makan buah tamar atau kurma. Kurma mempunyai nilai pemakanan yang tinggi. Buah ini membekalkan gula asli di dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Gula ini yang lebih baik daripada gula tebu.
Kurma juga mengandungi protein dan pelbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B2 dan C, termasuk zat besi, kapur, fosforus, belerang, kalium, magnesium, kalsium, mangaan dan tembaga. Kurma juga merupakan jenis makanan berserat tinggi.
Ternyata apa yang diperintahkan dan disarankan dalam al-Quran tidak hanya sekadar untuk memujuk hati Maryam yang terpaksa menghadapi tuduhan kaumnya seorang diri, sebaliknya perintah itu menjadi bukti bahawa al-Quran mendahului segala ilmu yang diperoleh oleh manusia zaman moden ini.
Dan ini mengukuhkan lagi keyakinan kita bahawa al-Quran sememangnya kitab suci yang benar daripada Allah s.w.t
Sewaktu mengandungkan Maryam, ibunya berdoa: “…Tuhanku, sesungguhnya aku nazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku ini sebagai muharrar (seorang yang bebas dari segala urusan dunia untuk berkhidmat kepada-Mu semata-mata), maka terimalah nazarku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Ali-Imran 3:35)
Mengapa hanya nama wanita itu yang dipilih untuk disebut dalam sebuah kitab suci yang dibaca oleh berbilion manusia sehingga ke hari kiamat, hanya Dia Yang Maha Mengetahui. Yang jelas, ia menjadi sebab seorang pendakwah Kristian memeluk Islam!
Dr. Gary Miller merupakan seorang pendakwah Kristian yang sangat aktif serta memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Bible. Beliau meminati matematik dan ilmu logik.
Suatu hari dia bertekad untuk membaca al-Quran bagi mencari kesalahan yang terdapat di dalamnya. Kesalahan itu nanti akan digunakan dalam mendakwah orang Islam agar memeluk Kristian.
Dia beranggapan, kitab yang telah ditulis lebih 14 abad yang lalu itu pastinya mengandungi maklumat-maklumat yang telah ketinggalan zaman, membicarakan tentang padang pasir dan yang berkaitan dengannya.
Namun apa yang ditemui sungguh menakjubkan. Al-Quran mengandungi fakta-fakta sains yang hebat. Lebih menakjubkan, al-Quran tidak langsung menceritakan tentang wanita-wanita yang hidup bersama Muhammad s.a.w. dan sangat rapat dengan baginda seperti Khadijah, Fatimah dan Aisyah. Sebaliknya al-Quran bercerita secara terperinci mengenai bonda Nabi Isa a.s. Al-Quran memuji dan mengiktiraf Maryam sebagai seorang gadis yang terpilih, suci, taat dan beriman kepada Allah serta kitab-kitab-Nya. Hal yang sedemikian tidak terdapat dalam kitab Kristian sendiri. Malah terdapat satu surah diberi nama Maryam. Nama Muhammad s.a.w. sendiri hanya disebut empat kali berbanding nama Isa a.s. yang disebut sebanyak 25 kali.
Selain itu dalam surah Maryam juga mengandungi mukjizat serta fakta yang diperakui ketepatannya oleh sains moden. Dalam ayat 23-26 surah Maryam, Allah s.w.t. telah berfirman (maksudnya):
”(Ketika dia hendak bersalin) maka sakit beranak itu memaksanya (pergi bersandar) ke pangkal sebatang pohon tamar (kurma); dia berkata, ‘Alangkah baiknya kalau aku mati sebelum ini dan menjadilah aku sesuatu yang dilupakan orang dan tidak dikenang-kenang!’ Lalu dia diseru dari sebelah bawahnya: ‘Janganlah engkau berdukacita (wahai Maryam), sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan di bawahmu sebatang anak sungai. Dan gegarlah ke arahmu batang pohon tamar itu, supaya gugur kepadamu buah tamar yang masak. Maka makanlah dan minumlah serta bertenang hatilah daripada segala yang merunsingkan. Kemudian kalau engkau melihat seseorang manusia, maka katakanlah: Sesungguhnya aku bernazar diam membisu kerana (Allah) Ar-Rahman; (setelah aku menyatakan yang demikian) maka aku tidak akan berkata-kata kepada sesiapa pun daripada kalangan manusia pada hari ini.” Dalam ayat di atas, Allah s.w.t. menasihati Maryam supaya:
1. jangan berdukacita,
2. gegarkan pohon kurma dan
3. makan buahnya.
Menurut pakar perubatan, perasaan dukacita atau disebut kemurungan ketika hamil boleh membawa kesan yang buruk kepada ibu dan anak dalam kandungannya.
Kaji selidik menyatakan kemurungan ibu menyebabkan berubahnya paksi neuroendocrine (saraf & hormon) dan saluran darah ke rahim, justeru mengundang kepada kelahiran pre-mature, rendah berat lahir bayi dan pre-eclampsia.
Keputusan kelahiran yang negatif banyak dikaitkan dengan simptom kemurungan dalam trimester kedua dan ketiga kehamilan. Bayi yang dilahirkn oleh ibu yang murung mempunyai paras cortisol dan catecholamine yang tinggi sebaik sahaja dilahirkan. Bayi-bayi ini menangis lebih kerap dan susah untuk dipujuk berbanding bayi-bayi daripada ibu yang tiada masalah kemurungan. Bayi daripada wanita yang mempunyai risiko kemurungan yang tinggi juga menunjukkan lebih ketidaktentuan waktu tidur dan lebih masa di atas katil sebelum benar-benar tidur.
Jika kemurungan berterusan sehingga selepas kelahiran, risiko kesan buruk berpanjangan terhadap bayi seperti kurang keakraban ibu dan anak, kelewatan perkembangan kemampuan cognitive, kurang perkembangan emosi dan masalah kelakuan boleh terjadi. Kajian menunjukkan bayi-bayi seperti ini lebih kalut, kurang menyatakan hasrat dan kurang membuat raut wajah yang positif. Jika bayi didedahkan kepada situasi kemurungan ibu dalam 4 bulan pertama, walaupun ibu mendapat rawatan kemudiannya, bayi tadi mengalami kelewatan pertumbuhan dan simptom-simptom tadi juga berkekalan. Apabila mereka membesar, berkemungkinan disebabkan oleh pendedahan awal atau suasana tertekan yang berterusan di rumah, mereka lebih berisiko untuk mengalami masalah gangguan emosi dan kelakuan buruk, cuba membunuh diri dan memerlukan rawatan mental pada kemudian hari.
Itu berkenaan nasihat jangan berdukacita. Mengapa pula dia disuruh agar menggegarkan pohon kurma? Ini bererti Allah s.w.t. mahu Maryam melakukan pergerakan, bukan duduk diam atau berehat memanjang.
Kajian juga menunjukkan bahawa riadah ringan semasa hamil mendatangkan kesan positif bagi ibu dan bayi. Riadah membantu ibu:
1. Berasa lebih selesa, meningkatkan perasaan pengawalan diri dan menambah kadar tenaga. Di samping menyebabkan rembesan endorphins (bahan kimia semulajadi dari otak), riadah juga:
a. melegakan sakit belakang dan membaiki posture badan dengan menguatkan tona otot belakang, punggung dan paha.
b. mengurangkan masalah sembelit dengan melajukan pergerakan usus.
c. mengelak masalah kehakisan sendi tulang (yang selalunya menjadi longgar ketika hamil disebabkan perubahan hormon) dengan mengaktifkan cecair pelincir dalam sendi.
d. membantu tidur nyenyak dengan menghilangkan stres dan perasaan berdebar-debar yang boleh menyebabkan para ibu tidak mendapat kerehatan di malam hari.
2. Lebih anggun. Riadah membantu pengaliran darah ke kulit, memberikan rupa yg sihat dan ceria.
3. Penyediaan diri dan badan untuk kelahiran. Otot yang kuat dan jantung yang bagus sangat membantu ketika proses melahirkan anak. Penguasaan aliran pernafasan dapat membantu ibu menghadapi sakit melahirkan anak. Dan jika waktu kelahiran sangat panjang, tubuh yang berstamina sememangnya banyak membantu.
4. Mengembalikan tubuh seperti sebelum mengandung lebih cepat. Ibu-ibu yang beriadah kurang menambah berat lemak ketika hamil jika riadah diteruskan dengan syarat riadah menjadi kebiasaan sebelum hamil.
Nasihat ketiga adalah makan buah tamar atau kurma. Kurma mempunyai nilai pemakanan yang tinggi. Buah ini membekalkan gula asli di dalam bentuk glukosa dan fruktosa. Gula ini yang lebih baik daripada gula tebu.
Kurma juga mengandungi protein dan pelbagai vitamin seperti vitamin A, B1, B2 dan C, termasuk zat besi, kapur, fosforus, belerang, kalium, magnesium, kalsium, mangaan dan tembaga. Kurma juga merupakan jenis makanan berserat tinggi.
Ternyata apa yang diperintahkan dan disarankan dalam al-Quran tidak hanya sekadar untuk memujuk hati Maryam yang terpaksa menghadapi tuduhan kaumnya seorang diri, sebaliknya perintah itu menjadi bukti bahawa al-Quran mendahului segala ilmu yang diperoleh oleh manusia zaman moden ini.
Dan ini mengukuhkan lagi keyakinan kita bahawa al-Quran sememangnya kitab suci yang benar daripada Allah s.w.t
JANGAN MENANGIS
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?
Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat
Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan
dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba
Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu
Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, " Aku lupa "
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, " Tunggu sebentar "
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu ketika kamu berkata, " Tinggalkan aku sendiri "
Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air mata
Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang
Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus...
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri...
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream !
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip " Easy come.. Easy go... "
Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang " yang tersedia "
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di " sekelilingmu "
Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya " seseorang "
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat
Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari
Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana
Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?
Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat
Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan
dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
melainkan awal dari kehidupan yang baru
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba
Karena merekalah yang bisa menghargai
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , " Aku turut berbahagia untukmu "
Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan menyadari
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
Yang seharusnya ada di dalam hidupmu
Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, " Aku lupa "
Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, " Tunggu sebentar "
Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu ketika kamu berkata, " Tinggalkan aku sendiri "
Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air mata
Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
daripada air mata yang keluar dari mata kita
Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
Sementara air mata yang tersembunyi,
Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
yang bekasnya tidak akan pernah hilang
Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
Tetapi ketika cinta itu tulus...
meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri...
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Atau karena ia tidak mempedulikan kita
Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
Jangan dengan mudah kita melepaskannya
Berjuanglah demi cintamu... Fight for your dream !
Itulah cinta yang sejati..
Bukannya seperti prinsip " Easy come.. Easy go... "
Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
Daripada berjalan bersama orang " yang tersedia "
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada orang yang berada di " sekelilingmu "
Lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
Untuk dibuang dengan hanya " seseorang "
Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat
Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu
Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari
Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana
Selasa, 26 Maret 2013
HAK SUAMI YG WAJIB DI TUNAIKAN ISTERI
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah,
Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam semoga terlimpah kepada
Rasulillah, Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wasallam, kelurga dan para
sahabatnya.
Hak suami atas istri termasuk salah
satu hak yang paling agung untuk
ditunaikan oleh seorang wanita.
Bahkan haknya suami atas istrinya
lebih besar daripada haknya istri atas
suaminya. Hal berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
ﻭﻟﻬﻦ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻟﻠﺮﺟﺎﻝ
ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺩﺭﺟﺔ
"Dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang makruf. Akan tetapi
para suami mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada istrinya." (QS. Al-
Baqarah: 228)
Al-Jashash berkata: Allah Ta'ala
mengabarkan dalam ayat ini, setiap
pasangan suami istri memiliki hak atas
pasangannya. Dan bahwasanya suami
diistimewakan dangan hak atas istrinya
yang tak dimiliki istrinya atas dirinya."
Di antara hak-hak tersebut:
1) Kewajiban taat kepada suami. Allah
telah jadikan para suami sebagai
pemimpin atas istrinya. Ia wajib
mengatur, mengarahkan dan
mengurusi istrinya sebagaimana
pemimpin yang mengurusi rakyatnya.
Hal ini karena Allah telah istimewakan
kaum lelaki dari fisik, akal, dan beban
nafkah. Allah Ta'ala berfirman,
ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻗﻮﺍﻣﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺑﻤﺎ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﻭﺑﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻮﺍ ﻣﻦ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka
(laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki)
telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
2) Siap melayani suaminya dalam
urusan ranjang saat ia memintanya. Ini
termasuk hak suami atas istrinya
setelah suami menyerahkan mahar dari
perkawinannya. Maka jika seorang istri
menolak untuk melayani suaminya
maka ia telah melakukan dosa besar,
kecuali ia memiliki udzur syar'i seperti
haid, puasa wajib, sakit dan
semisalnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu,
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bersabda,
ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻓﺄﺑﺖ ﻓﺒﺎﺕ
ﻏﻀﺒﺎﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﻨﺘﻬﺎ ﺍﻟﻤﻠﺎﺋﻜﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﺒﺢ
"Apabila seorang suami mengajak
istrinya ke ranjangnya (untuk berjima'), lalu ia menolak sehingga suaminya di
malam itu murka kepadanya, maka
para malaikat melaknatnya hingga
pagi." (Muttafaq 'Alaih)
Ibnu Majah meriwayatkan hadits yang
dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata:
Saat Mu'adz tiba dari Syam, ia
bersujud kepada Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam. Beliau berkata: "Apa
ini wahai Mu'adz?"
Mu'adz menjawab, "Aku telah datang
ke Syam, aku temui mereka bersujud
kepada para pemimpin dan penguasa
mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku
melakukan itu kepada Anda."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda: "Jangan lakukan
itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud
kepada selain Allah, pastilah aku
perintahkan wanita bersujud kepada
suaminya. Demi Dzat yang jiwa
Muhammad di tangan-Nya, tidaklah
seorang istri disebut telah menunaikan
hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan
hak suaminya. Kalau saja suami
memintanya untuk melayaninya
sementara ia berada di atas pelana
unta, maka hal itu tidak boleh
menghalanginya." (Dishahihkan oleh
Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Maknanya: hadits tersebut
memerintahkan kepada para istri untuk
mentaati dan siap melayani suaminya.
Tidak boleh ia menolak ajakan suami
walau ia sudah siap melakukan
perjalanan, yakni sudah berada di atas
pelana untanya, maka hal ini lebih
ditekankan saat ia berada dalam
keadaan selain itu.
3) Tidak mengizinkan masuk ke
rumahnya orang yang tidak disuka
suaminya. Di antara hak suami yang
harus ditunaikan istrinya, janganlah ia
membawa masuk ke dalam rumahnya
orang yang dibenci suaminya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu,
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bersabda,
ﻟﺎ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﺃﻥ ﺗﺼﻮﻡ ﻭﺯﻭﺟﻬﺎ ﺷﺎﻫﺪ ﺇﻟﺎ ﺑﺈﺫﻧﻪ
ﻭﻟﺎ ﺗﺄﺫﻥ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﺇﻟﺎ ﺑﺈﺫﻧﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﻧﻔﻘﺖ ﻣﻦ ﻧﻔﻘﺔ
ﻋﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻣﺮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺆﺩﻯ ﺇﻟﻴﻪ ﺷﻄﺮﻩ
"Tidak boleh (haram) bagi wanita untuk
berpuasa sementara suaminya ada di
sisinya kecuali dengan izinnya. Istri
juga tidak boleh memasukkan orang ke
dalam rumahnya kecuali dengan izin
suaminya. Dan harta yang ia
nafkahkan bukan dengan perintahnya,
maka setengah pahalanya diberikan
untuk suaminya." (HR. Al-Bukhari)
4) Tidak keluar rumah kecuali dengan
izin suami.
Syafi'iyah dan Hanabilah berkata, "Ia
(istri) tidak boleh keluar untuk
menjenguk ayahnya yang sakit kecuali
dengan izin suaminya. Ia punya hak
untuk melarang istrinya dari hal itu;
karena ketaatan kepada suami adalah
wajib, maka tidak boleh meninggalkan
perkara wajib dengan sesuatu yang
tidak wajib."
. . . Ia (istri) tidak boleh keluar
untuk menjenguk ayahnya yang
sakit kecuali dengan izin
suaminya. Ia punya hak untuk
melarang istrinya dari hal itu . . .
5) Suami memiliki hak mendisiplinkan
istrinya saat ia tidak patuh kepada
perintahnya dengan cara yang baik,
bukan dengan maksiat. Sebabnya,
Allah Ta'ala telah memerintahkan
mendisiplinkan wanita dengan hajr
(menjauhkan dari tempat tidurnya)
dan memukul saat tidak mau taat.
Hanafiyah menyebutkan 4 tempat
dibolehkannya suami memukul istrinya
dalam rangka mendisiplinkannya, di
antaranya: Pertama, tidak mau berhias
apabila ia menghendaki istrinya
berhias. Kedua, tidak mau menyambut
ajakan suami ketika mengajaknya ke
ranjangnya padahal dalam keadaan
suci. Ketiga, meninggalkan shalat.
Keempat, keluar rumah tanpa
seizinnya.
Beberapa dalil yang mendasari
bolehnya mendisiplinkan wanita:
Firman Allah Ta'ala,
ﻭﺍﻟﻠﺎﺗﻲ ﺗﺨﺎﻓﻮﻥ ﻧﺸﻮﺯﻫﻦ ﻓﻌﻈﻮﻫﻦ ﻭﺍﻫﺠﺮﻭﻫﻦ
ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻀﺎﺟﻊ ﻭﺍﺿﺮﺑﻮﻫﻦ
"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasihatilah mereka
dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah
mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
Firman Allah Ta'ala,
ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻗﻮﺍ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻜﻢ ﻧﺎﺭﺍ
ﻭﻗﻮﺩﻫﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺍﻟﺤﺠﺎﺭﺓ
"Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu." (QS. Al-
Tahrim: 6)
Imam Qatadah berkata, "Engkau
perintah mereka untuk taat kepada
Allah, engkau larang mereka dari
bermaksiat kepada Allah, engkau
pimpin dan perintah mereka dengan
perintah Allah, dan engkau bantu
mereka menjalankannya. Jika engkau
lihat kemaksiatan kepada Allah maka
engkau cegah dan larang mereka
darinya."
Serupa dengan itu, Al-Dhahak dan
Muqatil berkata, "Kewajiban seorang
muslim agar mengajarkan kepada
keluarganya dari kerabatnya, budak
wanita, dan budak laki-lakinya apa saja
yang telah Allah fardhukan kepada
mereka dan apa yang telah Dia larang
dari mereka." (Lihat: Tafsir Ibni Katsir:
4/392)
6) Istri berkhidmat kepada suaminya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menerangkan, bahwa seorang istri
wajib membantu suaminya dengan
cara yang ma'ruf. Ini sesuai dengan
tuntutan situasi dan kondisi.
Khidmatnya wanita kampung berbeda
dengan wanita kota, khidmatnya
wanita yang kuat berbeda dengan
khidmatnya wanita yang lemah." (Al-
Fatawa al-Kubra: 4/561)
. . . Kewajiban seorang muslim
agar mengajarkan kepada
keluarganya dari kerabatnya,
budak wanita, dan budak laki-
lakinya apa saja yang telah Allah
fardhukan kepada mereka dan
apa yang telah Dia larang dari
mereka. . .
Penutup
Sesungguhnya pemenuhan hak suami
oleh istri merupakan ladang kebaikan
yang besar, Siapa wanita yang bisa
menanaminya dengan sebanyak-
banyak tanaman, maka ia akan
memanen sebanyak-banyak buah
manisnya. Bukankah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah
bersabda, "Apabila wanita menunaikan
shalat lima waktu, puasa sebulan
(Ramadhan), menjaga kemaluannya,
dan mentaati suaminya; maka
disampaikan kepadanya: masuklah
surga dari pintu mana saja yang kamu
mau." (Dishahihkan Al-Albani dalam
Shahih al-Jami', no. 660)
Diriwayatkan dari al-Husain bin
Mihshan, bahwa bibinya pernah datang
kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam karena satu keperluan. Saat
sudah selesai, Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bertanya kepadanya,
"apakah kamu punya suami?"
Ia menjawab, "Ya."
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana
sikapmu terhadapnya?"
Ia menjawab, "Aku tidak kurangi hak-
nya kecuali apa yang aku tidak
mampu."
Beliau bersabda, "Perhatikan sikapmu
terhadapnya, karena ia surga dan
nerakamu." (HR. Ahmad dan Al-Hakim,
dishahihkan Al-Albani dalam Shahih
al;Targhib wa al-Tarhib, no. 1933)
Maksudnya, suamimu itu adalah sebab
kamu bisa masuk surga jika kamu
tunaikan hak-nya. dan suamimu itu
menjadi sebab kamu masuk neraka
jika kamu lalaikan hal itu. Wallahu
Ta'ala A'lam.
Rabb semesta alam. Shalawat dan
salam semoga terlimpah kepada
Rasulillah, Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wasallam, kelurga dan para
sahabatnya.
Hak suami atas istri termasuk salah
satu hak yang paling agung untuk
ditunaikan oleh seorang wanita.
Bahkan haknya suami atas istrinya
lebih besar daripada haknya istri atas
suaminya. Hal berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala,
ﻭﻟﻬﻦ ﻣﺜﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻟﻠﺮﺟﺎﻝ
ﻋﻠﻴﻬﻦ ﺩﺭﺟﺔ
"Dan para wanita mempunyai hak yang
seimbang dengan kewajibannya
menurut cara yang makruf. Akan tetapi
para suami mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada istrinya." (QS. Al-
Baqarah: 228)
Al-Jashash berkata: Allah Ta'ala
mengabarkan dalam ayat ini, setiap
pasangan suami istri memiliki hak atas
pasangannya. Dan bahwasanya suami
diistimewakan dangan hak atas istrinya
yang tak dimiliki istrinya atas dirinya."
Di antara hak-hak tersebut:
1) Kewajiban taat kepada suami. Allah
telah jadikan para suami sebagai
pemimpin atas istrinya. Ia wajib
mengatur, mengarahkan dan
mengurusi istrinya sebagaimana
pemimpin yang mengurusi rakyatnya.
Hal ini karena Allah telah istimewakan
kaum lelaki dari fisik, akal, dan beban
nafkah. Allah Ta'ala berfirman,
ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻗﻮﺍﻣﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺑﻤﺎ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺾ ﻭﺑﻤﺎ ﺃﻧﻔﻘﻮﺍ ﻣﻦ ﺃﻣﻮﺍﻟﻬﻢ
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka
(laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki)
telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
2) Siap melayani suaminya dalam
urusan ranjang saat ia memintanya. Ini
termasuk hak suami atas istrinya
setelah suami menyerahkan mahar dari
perkawinannya. Maka jika seorang istri
menolak untuk melayani suaminya
maka ia telah melakukan dosa besar,
kecuali ia memiliki udzur syar'i seperti
haid, puasa wajib, sakit dan
semisalnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu,
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bersabda,
ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺎ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﻓﺮﺍﺷﻪ ﻓﺄﺑﺖ ﻓﺒﺎﺕ
ﻏﻀﺒﺎﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻟﻌﻨﺘﻬﺎ ﺍﻟﻤﻠﺎﺋﻜﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﺼﺒﺢ
"Apabila seorang suami mengajak
istrinya ke ranjangnya (untuk berjima'), lalu ia menolak sehingga suaminya di
malam itu murka kepadanya, maka
para malaikat melaknatnya hingga
pagi." (Muttafaq 'Alaih)
Ibnu Majah meriwayatkan hadits yang
dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata:
Saat Mu'adz tiba dari Syam, ia
bersujud kepada Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam. Beliau berkata: "Apa
ini wahai Mu'adz?"
Mu'adz menjawab, "Aku telah datang
ke Syam, aku temui mereka bersujud
kepada para pemimpin dan penguasa
mereka. Lalu aku berniat dalam hatiku
melakukan itu kepada Anda."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda: "Jangan lakukan
itu, kalau saja aku (boleh) memerintahkan seseorang bersujud
kepada selain Allah, pastilah aku
perintahkan wanita bersujud kepada
suaminya. Demi Dzat yang jiwa
Muhammad di tangan-Nya, tidaklah
seorang istri disebut telah menunaikan
hak Rabb-nya sehingga ia menunaikan
hak suaminya. Kalau saja suami
memintanya untuk melayaninya
sementara ia berada di atas pelana
unta, maka hal itu tidak boleh
menghalanginya." (Dishahihkan oleh
Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Maknanya: hadits tersebut
memerintahkan kepada para istri untuk
mentaati dan siap melayani suaminya.
Tidak boleh ia menolak ajakan suami
walau ia sudah siap melakukan
perjalanan, yakni sudah berada di atas
pelana untanya, maka hal ini lebih
ditekankan saat ia berada dalam
keadaan selain itu.
3) Tidak mengizinkan masuk ke
rumahnya orang yang tidak disuka
suaminya. Di antara hak suami yang
harus ditunaikan istrinya, janganlah ia
membawa masuk ke dalam rumahnya
orang yang dibenci suaminya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu,
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
bersabda,
ﻟﺎ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ ﺃﻥ ﺗﺼﻮﻡ ﻭﺯﻭﺟﻬﺎ ﺷﺎﻫﺪ ﺇﻟﺎ ﺑﺈﺫﻧﻪ
ﻭﻟﺎ ﺗﺄﺫﻥ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﺇﻟﺎ ﺑﺈﺫﻧﻪ ﻭﻣﺎ ﺃﻧﻔﻘﺖ ﻣﻦ ﻧﻔﻘﺔ
ﻋﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻣﺮﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺆﺩﻯ ﺇﻟﻴﻪ ﺷﻄﺮﻩ
"Tidak boleh (haram) bagi wanita untuk
berpuasa sementara suaminya ada di
sisinya kecuali dengan izinnya. Istri
juga tidak boleh memasukkan orang ke
dalam rumahnya kecuali dengan izin
suaminya. Dan harta yang ia
nafkahkan bukan dengan perintahnya,
maka setengah pahalanya diberikan
untuk suaminya." (HR. Al-Bukhari)
4) Tidak keluar rumah kecuali dengan
izin suami.
Syafi'iyah dan Hanabilah berkata, "Ia
(istri) tidak boleh keluar untuk
menjenguk ayahnya yang sakit kecuali
dengan izin suaminya. Ia punya hak
untuk melarang istrinya dari hal itu;
karena ketaatan kepada suami adalah
wajib, maka tidak boleh meninggalkan
perkara wajib dengan sesuatu yang
tidak wajib."
. . . Ia (istri) tidak boleh keluar
untuk menjenguk ayahnya yang
sakit kecuali dengan izin
suaminya. Ia punya hak untuk
melarang istrinya dari hal itu . . .
5) Suami memiliki hak mendisiplinkan
istrinya saat ia tidak patuh kepada
perintahnya dengan cara yang baik,
bukan dengan maksiat. Sebabnya,
Allah Ta'ala telah memerintahkan
mendisiplinkan wanita dengan hajr
(menjauhkan dari tempat tidurnya)
dan memukul saat tidak mau taat.
Hanafiyah menyebutkan 4 tempat
dibolehkannya suami memukul istrinya
dalam rangka mendisiplinkannya, di
antaranya: Pertama, tidak mau berhias
apabila ia menghendaki istrinya
berhias. Kedua, tidak mau menyambut
ajakan suami ketika mengajaknya ke
ranjangnya padahal dalam keadaan
suci. Ketiga, meninggalkan shalat.
Keempat, keluar rumah tanpa
seizinnya.
Beberapa dalil yang mendasari
bolehnya mendisiplinkan wanita:
Firman Allah Ta'ala,
ﻭﺍﻟﻠﺎﺗﻲ ﺗﺨﺎﻓﻮﻥ ﻧﺸﻮﺯﻫﻦ ﻓﻌﻈﻮﻫﻦ ﻭﺍﻫﺠﺮﻭﻫﻦ
ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻀﺎﺟﻊ ﻭﺍﺿﺮﺑﻮﻫﻦ
"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasihatilah mereka
dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah
mereka." (QS. Al-Nisa': 34)
Firman Allah Ta'ala,
ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻗﻮﺍ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻜﻢ ﻧﺎﺭﺍ
ﻭﻗﻮﺩﻫﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺍﻟﺤﺠﺎﺭﺓ
"Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu." (QS. Al-
Tahrim: 6)
Imam Qatadah berkata, "Engkau
perintah mereka untuk taat kepada
Allah, engkau larang mereka dari
bermaksiat kepada Allah, engkau
pimpin dan perintah mereka dengan
perintah Allah, dan engkau bantu
mereka menjalankannya. Jika engkau
lihat kemaksiatan kepada Allah maka
engkau cegah dan larang mereka
darinya."
Serupa dengan itu, Al-Dhahak dan
Muqatil berkata, "Kewajiban seorang
muslim agar mengajarkan kepada
keluarganya dari kerabatnya, budak
wanita, dan budak laki-lakinya apa saja
yang telah Allah fardhukan kepada
mereka dan apa yang telah Dia larang
dari mereka." (Lihat: Tafsir Ibni Katsir:
4/392)
6) Istri berkhidmat kepada suaminya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menerangkan, bahwa seorang istri
wajib membantu suaminya dengan
cara yang ma'ruf. Ini sesuai dengan
tuntutan situasi dan kondisi.
Khidmatnya wanita kampung berbeda
dengan wanita kota, khidmatnya
wanita yang kuat berbeda dengan
khidmatnya wanita yang lemah." (Al-
Fatawa al-Kubra: 4/561)
. . . Kewajiban seorang muslim
agar mengajarkan kepada
keluarganya dari kerabatnya,
budak wanita, dan budak laki-
lakinya apa saja yang telah Allah
fardhukan kepada mereka dan
apa yang telah Dia larang dari
mereka. . .
Penutup
Sesungguhnya pemenuhan hak suami
oleh istri merupakan ladang kebaikan
yang besar, Siapa wanita yang bisa
menanaminya dengan sebanyak-
banyak tanaman, maka ia akan
memanen sebanyak-banyak buah
manisnya. Bukankah Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah
bersabda, "Apabila wanita menunaikan
shalat lima waktu, puasa sebulan
(Ramadhan), menjaga kemaluannya,
dan mentaati suaminya; maka
disampaikan kepadanya: masuklah
surga dari pintu mana saja yang kamu
mau." (Dishahihkan Al-Albani dalam
Shahih al-Jami', no. 660)
Diriwayatkan dari al-Husain bin
Mihshan, bahwa bibinya pernah datang
kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam karena satu keperluan. Saat
sudah selesai, Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bertanya kepadanya,
"apakah kamu punya suami?"
Ia menjawab, "Ya."
Beliau bertanya lagi, "Bagaimana
sikapmu terhadapnya?"
Ia menjawab, "Aku tidak kurangi hak-
nya kecuali apa yang aku tidak
mampu."
Beliau bersabda, "Perhatikan sikapmu
terhadapnya, karena ia surga dan
nerakamu." (HR. Ahmad dan Al-Hakim,
dishahihkan Al-Albani dalam Shahih
al;Targhib wa al-Tarhib, no. 1933)
Maksudnya, suamimu itu adalah sebab
kamu bisa masuk surga jika kamu
tunaikan hak-nya. dan suamimu itu
menjadi sebab kamu masuk neraka
jika kamu lalaikan hal itu. Wallahu
Ta'ala A'lam.
Kamis, 21 Maret 2013
10 PERINGATAN UNTUK KAUM WANITA
Abu Zar ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang wanita yang berkata kepada suaminya, “Semoga engkau mendapat kutukan Allah” Maka dia dikutuk oleh Allah dari atas langit yang ke-7 dan mengutuk pula segala sesuatu yang diciptakan Allah kecuali 2 jenis makhluk yaitu manusia dan jin.”
Abdul Rahman bin Auf meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang yang membuat susah kepada suaminya dalam hal belanja atau membebani sesuatu yang suaminya tidak mampu maka Allah tidak akan menerima amalannya yang wajib & sunnatnya.”
Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Kalau seandainya apa yang ada dibumi ini merupakan emas dan perak serta dibawa oleh seorang wanita ke rumah suaminya. Kemudian pada suatu hari terlontar kata-kata angkuh darinya, “Engkau ini siapa? Semua harta ini milikku dan engkau tidak punya harta apa pun” Maka terhapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.”
Ali ra meriwayatkan sebagai berikut: “Saya bersama Fatimah berkunjung ke rumah Rasulullah dan kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada malam aku di Isra’kan ke langit, aku melihat orang sedang mengalami berbagai penyiksaa. Bila teringat akan mereka aku menangis. Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah yang engkau lihat?”
Beliau bersabda:
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangannya diikat dari punggungnya sedangkan aspal yang mendidih dari neraka dituangkan ke kerongkongannya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya sedangkan air getah kayu zakum dituangkan ke kerongkongannya.
4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya ke arah ubun-ubun kepalanya serta dibelit ular & kalajengking.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri serta dibawahnya tampak api yang menyala-nyala dengan hebatnya.
6. Wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.
7. Wanita yang bermuka hitam dan memakan ususnya sendiri.
8. Wanita yang tuli, buta dan bisu dalam peti neraka sedang darahnya mengalir dari rongga badannya (hidung, telinga, mulut) & badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan keledai yang mendapat berjuta jenis siksaan.
Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, cahaya mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku apakah amal perbuatan wanita-wanita itu.”
Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fatimah, adapun mereka :
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya karena dia tidak menjaga rambutnya (dijilbab) dikalangan lelaki.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya karena dia menyakiti hati suaminya dengan kata-kata. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak ada seorang wanita yang menyakiti hati suaminya melalui kata-katanya kecuali Allah akan membuatkan mulutnya kelak dihari kiamat, selebar 70 zira’ kemudian akan mengikatnya di belakang lehernya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya karena dia menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya.
4. Wanita yang diikat dengan kaki dan tangannya itu karena dia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan nifas.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri karena suka bersolek untuk dilihat lelaki lain serta suka membicarakan aib orang.
6. Wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka karena dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang yang banyak dengan maksud supaya orang melihat perhiasannya dan setiap orang jatuh cinta padanya karena melihat perhiasannya.
7. Wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai ke ubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kalajengking karena dia mampu mengerjakan sholat dan puasa. Tetapi dia tidak mau berwudhu dan tidak shalat serta tidak mau mandi wajib.
8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.
9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing karena dia ahli fitnah serta suka marah- marah pada suaminya.
Sahabat,” dunia adalah perhiasan dan perhiasan dunia yang baik adalah wanita sholehah” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Nasa’i)
10 Wasiat tersebut adalah:
1. Kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan ank-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Andaikan suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoan suami terhadap istri dan ketahuilah kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit karena akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. bila dia meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman surga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanaan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dna umrah.
8. Tiadalah wanita yang tersenyum dihadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rsa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatngkan dari sungai-sungai syurga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman syurga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.
Ambil yang baik dan buang buruk sista. Semoga cerita pertama dapat menjadi renungan bagi kita. Adakah kita di antara wanita-wanita itu?? Jika kita takut termasuk dari golongan wanita itu Mohon ampunlah pada Allah dan berinteropeksi dirilah. semoga kita terhindar dari azab dan murka Allah. Dan semoga cerita kedua dapat menjadi motivasi bagi kita sista.
Wallahu’alam bi showwab.
Abdul Rahman bin Auf meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Seorang yang membuat susah kepada suaminya dalam hal belanja atau membebani sesuatu yang suaminya tidak mampu maka Allah tidak akan menerima amalannya yang wajib & sunnatnya.”
Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Kalau seandainya apa yang ada dibumi ini merupakan emas dan perak serta dibawa oleh seorang wanita ke rumah suaminya. Kemudian pada suatu hari terlontar kata-kata angkuh darinya, “Engkau ini siapa? Semua harta ini milikku dan engkau tidak punya harta apa pun” Maka terhapuslah semua amal kebaikannya walaupun banyak.”
Ali ra meriwayatkan sebagai berikut: “Saya bersama Fatimah berkunjung ke rumah Rasulullah dan kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada malam aku di Isra’kan ke langit, aku melihat orang sedang mengalami berbagai penyiksaa. Bila teringat akan mereka aku menangis. Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah yang engkau lihat?”
Beliau bersabda:
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangannya diikat dari punggungnya sedangkan aspal yang mendidih dari neraka dituangkan ke kerongkongannya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya sedangkan air getah kayu zakum dituangkan ke kerongkongannya.
4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya ke arah ubun-ubun kepalanya serta dibelit ular & kalajengking.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri serta dibawahnya tampak api yang menyala-nyala dengan hebatnya.
6. Wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.
7. Wanita yang bermuka hitam dan memakan ususnya sendiri.
8. Wanita yang tuli, buta dan bisu dalam peti neraka sedang darahnya mengalir dari rongga badannya (hidung, telinga, mulut) & badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan keledai yang mendapat berjuta jenis siksaan.
Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, cahaya mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku apakah amal perbuatan wanita-wanita itu.”
Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fatimah, adapun mereka :
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya karena dia tidak menjaga rambutnya (dijilbab) dikalangan lelaki.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya karena dia menyakiti hati suaminya dengan kata-kata. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Tidak ada seorang wanita yang menyakiti hati suaminya melalui kata-katanya kecuali Allah akan membuatkan mulutnya kelak dihari kiamat, selebar 70 zira’ kemudian akan mengikatnya di belakang lehernya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya karena dia menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya.
4. Wanita yang diikat dengan kaki dan tangannya itu karena dia keluar rumah tanpa izin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan nifas.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri karena suka bersolek untuk dilihat lelaki lain serta suka membicarakan aib orang.
6. Wanita yang memotong badannya sendiri dengan gunting dari neraka karena dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang yang banyak dengan maksud supaya orang melihat perhiasannya dan setiap orang jatuh cinta padanya karena melihat perhiasannya.
7. Wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai ke ubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kalajengking karena dia mampu mengerjakan sholat dan puasa. Tetapi dia tidak mau berwudhu dan tidak shalat serta tidak mau mandi wajib.
8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.
9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing karena dia ahli fitnah serta suka marah- marah pada suaminya.
Sahabat,” dunia adalah perhiasan dan perhiasan dunia yang baik adalah wanita sholehah” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan Nasa’i)
10 Wasiat tersebut adalah:
1. Kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2. Kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan ank-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.
3. Tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Andaikan suamimu tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhoan suami terhadap istri dan ketahuilah kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit karena akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. bila dia meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman surga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanaan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. dan Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dna umrah.
8. Tiadalah wanita yang tersenyum dihadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Tiadalah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rsa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatngkan dari sungai-sungai syurga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman syurga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.
Ambil yang baik dan buang buruk sista. Semoga cerita pertama dapat menjadi renungan bagi kita. Adakah kita di antara wanita-wanita itu?? Jika kita takut termasuk dari golongan wanita itu Mohon ampunlah pada Allah dan berinteropeksi dirilah. semoga kita terhindar dari azab dan murka Allah. Dan semoga cerita kedua dapat menjadi motivasi bagi kita sista.
Wallahu’alam bi showwab.
KEUTAMAAN SHOLAWAT NAARIYAH
Salah satu sholawat yangg mustajab yakni Sholawat Tafrijiyah Qurthubiyah/Sholawat Nariyah
Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).”
“Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yang mumpuni:. .. Dan imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”
Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.
Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.
Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.
Jadi nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bersholawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/sholawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bersholawat.
Inilah riwayat singkat sholawat nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan sholawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan syekh nariyah. Dan ada baiknya sholawat ini dibaca 4444 kali karena syekh nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran syekh.
Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak.
Inilah bacaan sholawat nariyah yang terkenal itu :
“أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ”
Artinya :
“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan/ikatan, dilepaskan/ lenyap dari segala kesusahan, ditunaikan/ dikabulkan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan hujan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia/yang pemurah. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna itu, semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan/ ilmu Engkau, Ya Alloh Tuhan semesta alam”
Dalam kitab terjemahan Afdhal al Salawat ‘ala Sayyid as Sadat karangan Yusuf bin Ismail an Nabhani (diterjemahkan oleh Muzammal Noer dengan judul Bershalawat untuk mendapat keberkahan hidup, dengan penerbit Mitra Pustaka, Cetakan I Desember 2003 hal 302),
Imam Ad Dinawari berkata : Siapa saja membaca shalawat setiap selesai sholat sebanyak 11 kali dan ia menjadikannya sebagai bacaan rutin maka rizkinya tidak akan pernah putus dan ia mendapatkan derajat yang tinggi.
Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amalamal kalian disampaikan kepadaku, jika saya tahu amal itu baik, aku memujii Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah.
Hadits riwayat al-Hafizh Ismail alQadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Nary. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma' az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas.
Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain: Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa mennjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya
Keutamaan Membaca Sholawat
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya. (QS Al-Ahzab 33: 56)
Shalawat dari Allah berarti rahmat. Bila shalawat itu dari Malaikat atau manusia maka yang dimaksud adalah doa.
Sementara salam adalah keselamatan dari marabahaya dan kekurangan.
Tidak ada keraguan bahwa membaca shalawat dan salam adalah bagian dari pernghormatan (tahiyyah), maka ketika kita diperintah oleh Allah untuk membaca shalawat -yang artinya mendoakan Nabi Muhammad- maka wajib atas Nabi Muhammad melakukan hal yang sama yaitu mendoakan kepada orang yang membaca shalawat kepadanya. Karena hal ini merupakan ketetapan dari ayat:
Maka lakukanlah penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau kembalikanlah penghormatan itu. (QS. An Nisa’: 86)
Doa dari Nabi inilah yang dinamakan dengan syafaat. Semua ulama telah sepakat bahwa doa nabi itu tidak akan ditolak oleh Allah. Maka tentunya Allah akan menerima Syafaat beliau kepada setiap orang yang membaca shalawat kepadanya.
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi. Diantaranya:
Barangsiapa berdoa (menulis) shalawat kepadaku dalam sebuah buku maka para malaikat selalu memohonkan ampun kepada Allah pada orang itu selama namaku masih tertulis dalam buku itu.
Barangsiapa yang ingin merasa bahagia ketika berjumpa dengan Allah dan Allah ridlo kepadanya, maka hendaknya ia banyak membaca shalawat kepadaku (Nabi).
Barangsipa membaca shalawat kepadaku di waktu hidupnya maka Allah memerintahkan semua makhluk-Nya memohonkan maaf kepadanya setelah wafatnya.
Mereka yang berkumpul (di suatu majlis) lalu berpisah dengan tanpa dzikir kepada Allah dan membaca shalawat kepada nabi, maka mereka seperti membawa sesuatu yang lebih buruk dari bangkai.
Para ulama sepakat (ittifaq) diperbolehkannya menambahkan lafadz 'sayyidina' yang artinya tuan kita, sebelum lafadz Muhammad. Namun mengenai yang lebih afdhol antara menambahkan lafadz sayyidina dan tidak menambahkannya para ulama berbeda pendapat.
Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dan Syeik Ibnu Abdis Salam lebih memilih bahwa menambahkan lafadz sayyidina itu hukumnya lebih utama, dan beliau menyebutkan bagian ini melakukan adab atau etika kepada Nabi. Beliau berpijak bahwa melakukan adab itu hukumnya lebih utama dari pada melakukan perintah (muruatul adab afdholu minal imtitsal) dan ada dua hadits yang menguatkan ini.
Yaitu hadits yang menceritakan sahabat Abu Bakar ketika diperintah oleh Rasulullah mengganti tempatnya menjadi imam shalat subuh, dan ia tidak mematuhinya. Abu bakar berkata:
Tidak sepantasnya bagi Abu Quhafah (nama lain dari Abu Bakar) untuk maju di depan Rasulullah.
Yang kedua, yaitu hadits yang menceritakan bahwa sahabat Ali tidak mau menghapus nama Rasulullah dari lembara Perjanjian Hudaibiyah. Setelah hal itu diperintahkan Nabi, Ali berkata
Saya tidak akan menghapus namamu selamanya.
Kedua hadits ini disebutkan dalam kitab Shahih Bukhori dan Muslim.Taqrir (penetapan) yang dilakukan oleh Nabi pada ketidakpatuhan sahabat Abu Bakar dan ali yang dilakukan karena melakukan adab dan tatakrama ini menunjukkan atas keunggulan hal itu.
Rasulullah SAW bersabda:
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.
Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
Wallohu'alam
Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).”
“Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yang mumpuni:. .. Dan imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”
Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.
Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.
Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.
Jadi nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bersholawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/sholawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bersholawat.
Inilah riwayat singkat sholawat nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan sholawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan syekh nariyah. Dan ada baiknya sholawat ini dibaca 4444 kali karena syekh nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran syekh.
Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak.
Inilah bacaan sholawat nariyah yang terkenal itu :
“أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ”
Artinya :
“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan/ikatan, dilepaskan/ lenyap dari segala kesusahan, ditunaikan/ dikabulkan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan hujan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia/yang pemurah. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna itu, semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan/ ilmu Engkau, Ya Alloh Tuhan semesta alam”
Dalam kitab terjemahan Afdhal al Salawat ‘ala Sayyid as Sadat karangan Yusuf bin Ismail an Nabhani (diterjemahkan oleh Muzammal Noer dengan judul Bershalawat untuk mendapat keberkahan hidup, dengan penerbit Mitra Pustaka, Cetakan I Desember 2003 hal 302),
Imam Ad Dinawari berkata : Siapa saja membaca shalawat setiap selesai sholat sebanyak 11 kali dan ia menjadikannya sebagai bacaan rutin maka rizkinya tidak akan pernah putus dan ia mendapatkan derajat yang tinggi.
Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amalamal kalian disampaikan kepadaku, jika saya tahu amal itu baik, aku memujii Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah.
Hadits riwayat al-Hafizh Ismail alQadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Nary. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma' az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas.
Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain: Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa mennjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).
Rasulullah SAW juga pernah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya
Keutamaan Membaca Sholawat
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya. (QS Al-Ahzab 33: 56)
Shalawat dari Allah berarti rahmat. Bila shalawat itu dari Malaikat atau manusia maka yang dimaksud adalah doa.
Sementara salam adalah keselamatan dari marabahaya dan kekurangan.
Tidak ada keraguan bahwa membaca shalawat dan salam adalah bagian dari pernghormatan (tahiyyah), maka ketika kita diperintah oleh Allah untuk membaca shalawat -yang artinya mendoakan Nabi Muhammad- maka wajib atas Nabi Muhammad melakukan hal yang sama yaitu mendoakan kepada orang yang membaca shalawat kepadanya. Karena hal ini merupakan ketetapan dari ayat:
Maka lakukanlah penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau kembalikanlah penghormatan itu. (QS. An Nisa’: 86)
Doa dari Nabi inilah yang dinamakan dengan syafaat. Semua ulama telah sepakat bahwa doa nabi itu tidak akan ditolak oleh Allah. Maka tentunya Allah akan menerima Syafaat beliau kepada setiap orang yang membaca shalawat kepadanya.
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi. Diantaranya:
Barangsiapa berdoa (menulis) shalawat kepadaku dalam sebuah buku maka para malaikat selalu memohonkan ampun kepada Allah pada orang itu selama namaku masih tertulis dalam buku itu.
Barangsiapa yang ingin merasa bahagia ketika berjumpa dengan Allah dan Allah ridlo kepadanya, maka hendaknya ia banyak membaca shalawat kepadaku (Nabi).
Barangsipa membaca shalawat kepadaku di waktu hidupnya maka Allah memerintahkan semua makhluk-Nya memohonkan maaf kepadanya setelah wafatnya.
Mereka yang berkumpul (di suatu majlis) lalu berpisah dengan tanpa dzikir kepada Allah dan membaca shalawat kepada nabi, maka mereka seperti membawa sesuatu yang lebih buruk dari bangkai.
Para ulama sepakat (ittifaq) diperbolehkannya menambahkan lafadz 'sayyidina' yang artinya tuan kita, sebelum lafadz Muhammad. Namun mengenai yang lebih afdhol antara menambahkan lafadz sayyidina dan tidak menambahkannya para ulama berbeda pendapat.
Syeikh Ibrahim Al-Bajuri dan Syeik Ibnu Abdis Salam lebih memilih bahwa menambahkan lafadz sayyidina itu hukumnya lebih utama, dan beliau menyebutkan bagian ini melakukan adab atau etika kepada Nabi. Beliau berpijak bahwa melakukan adab itu hukumnya lebih utama dari pada melakukan perintah (muruatul adab afdholu minal imtitsal) dan ada dua hadits yang menguatkan ini.
Yaitu hadits yang menceritakan sahabat Abu Bakar ketika diperintah oleh Rasulullah mengganti tempatnya menjadi imam shalat subuh, dan ia tidak mematuhinya. Abu bakar berkata:
Tidak sepantasnya bagi Abu Quhafah (nama lain dari Abu Bakar) untuk maju di depan Rasulullah.
Yang kedua, yaitu hadits yang menceritakan bahwa sahabat Ali tidak mau menghapus nama Rasulullah dari lembara Perjanjian Hudaibiyah. Setelah hal itu diperintahkan Nabi, Ali berkata
Saya tidak akan menghapus namamu selamanya.
Kedua hadits ini disebutkan dalam kitab Shahih Bukhori dan Muslim.Taqrir (penetapan) yang dilakukan oleh Nabi pada ketidakpatuhan sahabat Abu Bakar dan ali yang dilakukan karena melakukan adab dan tatakrama ini menunjukkan atas keunggulan hal itu.
Rasulullah SAW bersabda:
Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah.
Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi).
Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat.
Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)
Wallohu'alam
Langganan:
Postingan (Atom)